Kritik Tia Setiadi Terhadap Puisi-Puisi Cinta

vampires-kiss

Tia Setiadi, pegiat sastra yang menjadi kurator dalam buku antologi puisi “Ia Terbangun di Tahun Yang Belum Tercatat di Kalender” menulis sebuah kata pengantar yang pedas terhadap mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNY, penulis-penulis puisi di buku tersebut. Yang menjadi keprihatinan utamanya adalah muatan-muatan dalam puisi mereka, terutama yang kebanyakan menjurus ke dalam bentuk puisi cinta.

Dalam kata pengantarnya, Tia Setiadi mengatakan bahwa para penyair muda tersebut masih belum melihat puisi sebagai sebentang dunia yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan baru. Mereka masih berkutat soal-soal remaja, sentimentil dan romantis. Tia Setiadi bahkan dengan terus terang menyatakan kejenuhannya membaca beberapa model sajak dalam buku tersebut.

Memang pada kenyataannya, buku antologi tersebut dijejali oleh puisi-puisi cinta. Puisi yang di jadikan tempat pelarian untuk mengungkap kesedihan, kekecewaan atau harapan dan pemujaan yang berlebihan oleh para penyairnya. Misalkan saja puisi “Demi Hati” oleh Ahmad Ali Ahsan, “Cinta yang tak Seperti Sapardi” oleh Manarina Khusna dan “Tapi Kekasih” oleh Oktaviana Setyo H.P.

Sebagai seorang pegiat sastra yang masih hijau, saya merasa ditampar oleh tulisan Tia Setiadi tersebut, sebab saya punya pandangan tersendiri tentang puisi cinta. Puisi cinta, merupakan jenis puisi yang paling banyak ditulis sepanjang sejarah. Walaupun tidak punya data kuantitatif untuk pernyataan saya, saya meyakininya demikian.

Banyaknya puisi cinta tersebut membuat para penyair kehabisan kata. Mereka harus punya cara alternatif mengeluarkan perasaan mereka dalam bentuk tulisan. Karena harus kita akui bahwa kalimat seperti “Matamu bagaikan sinar mentari” memang merupakan suatu kalimat yang membosankan. Konvensional. Klise.

Saya sependapat dengan pernyataan Tia Setiadi bahwa para penyair muda jarang untuk mencoba keluar dari sangkar dan terbang menjelajahi kawasan baru dalam dunia penulisan puisi. Sejauh saya giat menulis belakangan ini, puisi-puisi romantis merupakan jenis tulisan yang sering saya baca.

Dalam hal ini bukan berarti tidak boleh menulis puisi cinta, hanya saja cobalah untuk membongkar kejenuhan dalam dunia sastra ini. Masih banyak topik-topik yang bisa dituliskan. Puisi-puisi sosial misalnya, merupakan salah satu bentuk jenis puisi populer yang lain.Yang pada kenyataannya memang puisi semacam itulah yang lebih banyak terkenal, misalkan “Peringatan” karya Wiji Thukul dan puisi-puisi Chairil Anwar.

Dan terakhir, sebelum saya menutup tulisan ini, saya hanya ingin mengutip utuh salah satu puisi favorit saya dalam buku “Ia Terbangun Di Tahun Yang Belum Tercatat Di Kalender” yang menurut saya merupakan salah satu bentuk puisi cinta yang berhasil keluar dari arus utama dari kebanyakan penyair muda lain dalam buku tersebut :

Blues Untuk Maria Magdalena yang Tidak Setia oleh Jikkha Demmi Kyan

Apa makna bercinta bagimu? Burung-burung gagak
Membangun koloni dengan kelelawar-kelelawar
Yang tiba-tiba memiliki sepasang tanduk, dan sebuah
Ekor menyerupai anak panah milik robin hood yang melesat
Menghujam jantungku.

Seketika itu, aku tak lagi mendenyutkan nadi

Tak ada suara yang kudengar, tidak juga kabar darimu
Dunia gelap, dunia gelap, di sekelilingku
Pagar-pagar dirobohkan begitu saja
Rumah-rumah tiba-tiba menjulang tanpa alasan
Dan segala hantu yang selama ini dimitoskan
Benar-benar menjadi kenyataan. Semua orang
Berhamburan keluar rumah. Melihat

Seorang lelaki, menancapkan kemaluannya pada sebatang pohon
“aku tak memiliki kekasih” katanya

Pada akhirnya, perempuan-perempuan dengan sukarela
Menyerahkan dirinya untuk disetubuhi. Di balik batu-batu
Dua anak kecil tak mengerti cara bercinta. Mereka melepas cawat,
Dan berlari bertelanjang. Dalam pikiranku, setiap sarang burung,
kelak akan
Runtuh dan jatuh ke tanah.

Yogyakarta, 2 November 2011

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s