Menjadi Anjing

Prized Dog Chinese Greyhound oleh Giuseppe Castiglione
“Prized Dog Chinese Greyhound” oleh Giuseppe Castiglione

Isi perut ini telah penuh dan otak sudah aku persiapkan untuk mempelajari bahasa Indonesia yang diampu Bu Kartika. Aku berjalan di selasar sekolah dan berencana masuk ke kelas, sebelum Aris kemudian memanggilku dari kejauhan.

“Dim, sini..” panggil Aris. Aku mendatanginya di taman dan duduk disampingnya.

“Kenapa lagi Ris?” tanyaku.

“Apa yang akan terjadi jika seseorang meninggal?” tanya Aris.

Tidak heran, aku tahu bahwa Aris akan berbicara hal-hal aneh seperti biasa. Ini bukan pertama kalinya. Ia pernah menceritakan padaku bahwa awan-awan di langit, merupakan ramalan semesta akan masa depan manusia. Atau tentang penampakan monster di dermaga pinggir kota. Juga Bu Kartika, guru bahasa Indonesia kami sebenarnya adalah hantu.

Aris sering menyendiri di taman tanpa teman. Ia jarang masuk ke sekolah, masuk ke dalam kelas pun sering melamun. Aku sering menemukannya sendirian di dermaga ketika pulang sekolah, bernyanyi ringan.

“Entahlah. Kata Ayah, keluarga akan menguburkannya. Aku pernah ikut pemakaman paman, seluruh keluarga bersedih dan menangis. Bibi berteriak-teriak dan sering kali pingsan. Matanya merah dan bengkak, mukanya pucat Ris” jawabku.

“Ya, aku tahu itu. Yang aku maksud adalah apa yang terjadi jika seseorang telah dikuburkan?” tanya Aris lagi.

“Tentu saja kembali menjadi tanah” jawabku.

Aris terdiam, mungkin tidak mengerti yang aku katakan.

“Maksudmu?” tanyanya lagi.

“Kata Romo, kita dibentuk oleh Tuhan dari tanah dan debu. Tuhan memberikan nafas kehidupan ke hidung kita, dan dengan demikianlah manusia menjadi makhluk yang hidup. Ketika kita mati, kita akan kembali menjadi debu, tetapi roh kita akan kembali bersama Allah, sang pencipta” jawabku sebagai seorang Katolik yang saleh.

“Kamu yakin?” tanya Aris. Ia mengerenyitkan dahi lalu merampas minumanku lalu ditenggaknya habis.

“Tentu saja, Romo yang mengatakannya demikian. Lagipula itu tertulis di Alkitab.”

“Kenapa kamu mempercayai romo dan Alkitab?”

“Karena aku seorang Katolik, bukankah kamu juga? Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu tidak mempercayai Tuhan Allahmu?”

“Bukan seperti itu. Aku hanya tidak percaya jika seseorang yang meninggal akan kembali menjadi tanah dan debu” jawab Aris.

Aris terdiam lalu mengambil sebuah batu lalu melemparkannya ke seekor anjing yang sibuk mengais sampah tidak jauh dari tempat kami duduk, dan meleset. Anjing tersebut melarikan diri.

“Kamu lihat anjing itu?” tunjuk Aris.

“Ya, kenapa?”

“Dia dulu adalah seorang manusia” kata Aris.

“Apa maksudmu?” tanyaku heran.

“Anjing itu adalah Mas Budi, pengemis yang sering lewat sini ketika pergi ke pasar.”

“Yang meninggal seminggu lalu?”

“Ya..” jawabnya enteng. Aku berdiri, tidak terima dengan perkataannya.

“Langsung saja, aku tidak mengerti maksudmu! Apa kau bilang Mas Budi berubah menjadi anjing?”

“Duduk Dim, biar aku ceritakan” Aris menarik lenganku dan mengajakku duduk kembali.

“Senin kemarin, dua hari setelah kematian mas Budi, aku lewat kuburan umum. Aku melihat anjing yang baru saja mengais sampah tersebut di sekitar makamnya. Tidak hanya itu, aku juga pernah melihat anjing hitam di sekitar kuburan Ayahku. Aku seringkali melihat anjing-anjing di pemakaman, yang selalu muncul beberapa hari setelah kematian seseorang. Dulu ketika Mas Budi masih hidup, ia sering mengais tempat sampah itu untuk mencari makan, dan sekarang dia dalam bentuk anjing ma..”

“Cukup Aris! Aku tidak ingin mendengar ocehanmu. Aku muak dengan omong kosong semacam ini!” aku berdiri lagi, marah. Aku hanya ingin segera pergi dari tempat ini dan tidak melanjutkan pembicaraan ini.

“Kamu hanya masih sedih karena kematian Ayahmu, manusia yang mati tidak mungkin menjadi anjing. TIDAK MASUK AKAL!”

Tek.. tek.. tek! Kentongan sekolah berbunyi, teman-teman yang lain masuk ke kelas. Begitu pula aku kemudian meninggalkan Aris yang masih duduk ditaman sekolah. Sementara dia mungkin shock dengan bentakanku tadi.

“Akan aku buktikan bahwa manusia yang mati itu berubah menjadi anjing!” teriaknya. Terserahlah.

***

“AAAAAAAAAAAA…..” teriak seorang gadis dari ruangan kelas.

Aku berlari masuk ke dalam kelas dan kaget melihat apa yang terjadi. Aris membabi buta memukuli Rina dengan kursi kayu. Wajah Rina rusak parah berlumur darah. Mulutnya menganga, matanya melotot, mulutnya seolah tersumbat ingin berteriak ‘tolong’. Semua siswa perempuan di kelas itu menangis menjerit-jerit.

“ARIS!!!” aku mendorong Aris hingga terjatuh. Kami bergulat, beruntung badanku lebih besar, aku menguasainya.

“Apa yang kau lakukan Aris?” tanyaku sambil menangis. Tangan kiriku mencengkram ke kerah bajunya lalu tangan kananku melayang tepat ke wajahnya.

“Aku ingin membuktikan padamu bahwa manusia yang meninggal akan menjadi anjing!!!” teriak Aris.

“YESUS KRISTUS!!” teriak ibu guru.

Bapak dan ibu guru masuk ke dalam kelas. Berhasil memisahkan kami. Rina dibopong dan dibawa ke rumah sakit. Ia meninggal dua jam kemudian. Kami hanya menangis dan menangis. Sementara Ibu Rina, sama seperti bibiku yang kehilangan paman, berteriak-teriak nyaring. Suaranya membuat hatiku perih dan memperkosa telingaku hingga berdarah-darah. Kemudian Ibu Rina pingsan.

Aku bertanya-tanya, setan apa gerangan yang merasuki Aris. Setan apa yang membuat Aris melakukan hal keji seperti itu. Aku tahu Aris sangat membeci Rina, sangat. Tetapi pada awalnya, Aris menyukai Rina. Merekalah pasangan yang sering kami jadikan bahan lelucon di kelas. Sayang, sekarang Rina terbaring kaku menjadi seonggok mayat beku. Aris bodoh.

Yang tak ku sangka, ternyata Rina menyukaiku, aku hanya berusaha agar Aris tidak mengetahui hal tersebut. Hingga suatu ketika, Rina berkata kepada Aris bahwa ia tidak menyukai Aris. Rina meminta Aris untuk menjauhinya. Semenjak itu, Aris berubah. Perilakunya semakin aneh. Ia sering memainkan bangkai tikus di belakang sekolahan. Ibunya sering mencarinya kemana-mana, dan menemukannya seorang diri di danau.

Kematian ayahnya memperburuk segalanya. Ia semakin jarang kelihatan dan terlihat semurung mendung hujan. Juga ibunya yang sering membawa pulang lelaki ke rumah. Terkadang ibunya mengusir Aris  keluar dari rumah, lalu Aris pergi ke dermaga di danau. Ia semalaman di situ, hingga matahari muncul pada pukul delapan pagi keesokan harinya, ia baru pulang ke rumah.

Sekarang? Ia dikeluarkan dari sekolah. Aku berpikir ia sebenarnya pantas mendapatkannya. Aris hanya menjadi penutup makan malam kejamnya dunia. Ia hanya menjadi mainan Arae.

 ***

Seminggu lagi ujian nasional, dan aku baru saja pulang dari kelompok belajar. Tetapi pikiran ini masih membayangkan Aris. Aris yang bodoh dan aneh, dan misterius. Aku kesal membayangkannya. Untunglah dia sudah mati, tenggelam di danau tempat dia sering menyendiri.

Seseorang mengatakan dia bunuh diri, berita lain mengatakan keluarga Rina yang membunuhnya. Mayatnya ditemukan sebulan kemudian dihilir dalam keadaan rusak. Dan sekarang aku berjalan sendiri di malam hari melewati danau itu. Dengan penuh rasa takut melihat dermaga tua tersebut tanpa perahu yang bersandar.

Aku mempercepat langkah, takut bertemu dengan monster yang selama ini sering diceritakan Aris. Sekarang pukul setengah dua belas malam, di temani kunang-kunang dan desir angin menyisir pepohonan. Kemudian aku mendengar derap langkah. Aku menoleh kebelakang, tidak ada apa-apa. Aku kembali berjalan dan kaget ketika melihat seekor anjing dihadapanku. Anjing kecil manis lagi imut.

Anjing itu mengendus kakiku lalu menatapku dengan lama. Kemudian anjing itu berlari disusul seekor anjing lagi. Mereka berkejar-kejaran di sepanjang tepian danau. Dan kemudian mereka berhenti di dermaga, bercinta. Lolongan kedua ekor anjing tersebut nyaring menggema di sepanjang lembah berdanau, di mana bulan malam itu bercermin merias diri di permukaan air.

“Aris?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.