Balai Poestaka dan Sastra Pinggiran

balai-poestakajpg_iKn5ITulisan Joss Wibisono berjudul “Melajoe Belanda” (Tempo, 8 September 2013) menjelaskan bagaimana Balai Poestaka, sebuah lembaga kolonial yang melakukan penerbitan, mempunyai peran untuk menyebarkan dan menjaga bahasa Melayu, terutama Melayu Riau, yang disebut sebagai Melayu tinggi. Sayangnya, dalam tulisan itu Joss kehilangan rincian yang cukup penting mengenai aktivitas Balai Poestaka dalam rangka tidak hanya menyebarkan bahasa Melayu, tapi turut ‘meminggirkan’ karya sastra daerah, terutama yang menggunakan bahasa Melayu rendah. Tulisan ini menjadi pelengkap apa yang hilang dari tulisan Joss.

Sudarmoko dalam bukunya yang berjudul Roman Pergaoelan (2008), menjelaskan bahwa selama ini karya-karya yang diterbitkan Balai Poestaka menjadi barometer perjalanan sastra Indonesia. Sebagai manifestasi estetika, bahasa dan sastra menjadi satu kesatuan. Dalam hal ini, Balai Poestaka tidak hanya menjadi penentu mana bahasa Melayu tinggi dan bahasa Melayu rendah, tetapi juga membentuk konsepsi masyarakat dalam kajian sastra selama ini. Lembaga kolonial ini mementukan mengenai mana sastra yang baik dan buruk, mana yang menjadi perhatian dan mana yang diremehkan, atau seringkali disebut sebagai karya pinggiran dan karya pusat.

Konsepsi pusat dan pinggiran tersebut dapat dijelaskan bahwa karya yang baik dihasilkan di Batavia. Di luar itu adalah karya pinggiran. Beberapa karya pinggiran tersebut misalnya terbitan roman oleh Penjiaran Ilmoe di Bukittinggi, Sumatra Barat, yang disebut sebagai Roman Pergaoelan. Penerbitan sejenis misalnya Madjalah Dunia Pengalaman dari Medan yang diterbitkan oleh Pustaka Islam dan Lukisan Pudjangga di kota yang sama dan diterbitkan oleh penerbit Tjerdas. Gubahan Maya yang dipimpin Matu Mona dan Roman Manusia di Padang, dan beberapa penerbitan lain di Solo, Jogjakarta dan Makassar sempat meramaikan dunia roman Hindia Belanda.

Roman di sini sebenarnya tidak lain adalah novel, atau seringkali disebut sebagai cerita pendek yang dipanjangkan. Ciri-ciri roman yang lain misalnya, isinya dangkal, dikarang tergesa-gesa untuk mencapai tenggat waktu, ditulis sekitar 80 halaman, dan tidak memiliki tujuan serta isi yang tidak bisa dibuktikan oleh pengarang.

Terlepas dari pengertian yang ada, selama ini karya sastra dibagi menjadi empat, yaitu sastra resmi, sastra yang dilarang, sastra yang diremehkan dan sastra yang dipisahkan. Roman Pergaoelan dimasukkan ke dalam kelompok sastra yang diremehkan, sekaligus dipisahkan. Sudarmoko di sini berangkat dari penjelasan, bahwa sastra yang diremehkan adalah berbagai kesusteraan yang dibiarkan tumbuh di “bawah”, “pinggir”, atau “luar” forum kesusasteraan resmi, karena dianggap tidak cukup bernilai untuk diperhatikan atau dihargai. Sudah diremehkan, dipisahkan, dipinggirkan pula!

Konsepsi karya pinggiran ini, jangan dimengerti hanya terbatas kepada letak geografis, antara Balai Poestaka di Batavia sebagai pusat, dengan penerbitan lain di daerah. Karena tidak terbatas kepada letak geografis, saya kemudian menemukan beberapa poin penting lainnya dalam tulisan Joss, yang menjelaskan bagaimana terjadi peminggiran karya sastra daerah, yang antara lain adalah karena berikut ;

Pertama, bahasa Melayu Riau yang oleh pemerintah kolonial dinobatkan sebagai Hoog-Maleisch (Melayu tinggi) dan digunakan oleh Balai Poestaka, menggeser bentuk-bentuk bahasa Melayu lain yang dianggap lebih rendah. Padahal bahasa Melayu lain yang dianggap lebih rendah itu digunakan oleh penerbitan karya sastra di daerah. Tidak heran jika kemudian beberapa karya yang terbit di daerah dan menggunakan bahasa Melayu Minangkabau dan Melayu Cina, juga Sunda dan Jawa, dianggap sebagai karya sastra rendah, karya sastra pinggiran. Macam Roman Pergaoelan. Tapi toh, pada akhirnya Balai Poestaka yang dikenal menggunakan bahasa Melayu Riau terpengaruh bahasa Melayu Minangkabau juga, karena beberapa pegawainya juga berasal dari Bukittinggi yang menggunakan bahasa Melayu ‘rendah’. Misalnya Anas Ma’ruf asal Bukittinggi, tempat Penjiaran Ilmu menerbitkan Roman Pergaoelan.

Kedua, tidak seperti Balai Poestaka yang melarang naskah berisi aspirasi Indonesia merdeka, sebaliknya Roman Pergaoelan malah memberikan ruang yang cukup luas bagi perkembangan sastra seiring dengan kelonggaran sosial-politik dan penerbitan pers kala itu. Sementara Balai Poestaka melarang menggunakan kata ‘Indonesia’, Roman Pergaoelan dalam beberapa terbitnya terdapat kata ‘Indonesia’. Gaung nasionalisme dan kesadaraan akan kebangsaan Indonesia terasa di Sumatra Barat.

Kepentingan pemerintah kolonial waktu itu mempengaruhi bagaimana sebuah karya sastra dianggap sebagai sastra yang dipinggirkan. Peminggiran ini terlaksana melalui pembentukan dan penetapan nilai estetika karya sastra, yang tidak lain adalah cerminan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Batavia. Karenanya, setiap kajian karya sastra daerah patut diapresiasi untuk kembali mengangkat, dan terutama ‘memasukkan’ apa yang selama ini dianggap sebagai karya sastra pinggiran dalam arus pemikiran dunia sastra Indonesia, dimanapun terbitnya, apapun isinya, apapun bahasanya.

Iklan

1 thought on “Balai Poestaka dan Sastra Pinggiran”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s