Jejak Langkah Imbas

Beberapa orang sibuk memeriksa kertas. Tiga orang lagi duduk santai dalam ruangan itu, lantai satu perpustakaan UKSW. Ruangan itu adalah kantornya XT Radio –radio Fakultas Teknik Jurusan Elektro (FTJE) –sekarang FTEK UKSW. “Imbas sudah tidak di sini mas. Sudah lama tidak aktif,” ujar salah satunya. Ruangan itu menjadi saksi bisu perjalanan Imbas. Sebab, pada 2004, Imbas sempat berkantor di sana.

Saya mencoba memungut kembali kepingan sejarah Imbas, yang katanya menjadi ‘santiran idealisme FTJE’. Ada beberapa tulisan yang membahas dan menyinggung Imbas, antara lain Satria Anandita, judulnya Jas Merah Satya Wacana dalam majalah Scientiarum tahun 2008. Kemudian Kemelut UKSW 1994-1995 oleh Budi Kurniawan, Gampang-Gampang Susah oleh Bambang Triyono dan Sampai Waktu yang Tidak ditentukan oleh Yodie Hardiyan dalam situs jaring Ascarya, pers mahasiswa FEB UKSW.

Imbas Satu
Pernah bertanya-tanya, kenapa diberi nama Imbas?” tanya saya. “Dulu hingga akhir 1970’an adanya Elektrika,” jawab Andreas Harsono. Kemudian, pada awal 1980’an diterbitkan dua majalah sekaligus, Imbas khusus majalah sosial dan Elka jurnal elektronik. Andreas menjelaskan bahwa Elka merupakan singkatan dari elektronika. Sementara Imbas dari kata ‘imbas’.

Andreas, penulis buku A9ama Saya Adalah Jurnalisme ini adalah mahasiswa FTJE 1984. Pernah bergelut di dalam Imbas, pers mahasiswa ‘fakultas sandal jepit’ dari 1986 hingga 1990. Tidak lama setelah bergabung, Andreas menjadi pemimpin redaksi Imbas.

Andreas sendiri tidak tahu persis kapan Imbas berdiri, “Ketika masuk 1984, Imbas sudah ada. Mungkin setahun atau dua tahun sebelumnya,” jawab Andreas.

Untuk mencari keterangan lebih lanjut, Saya menghubungi Stanley Adi Prasetyo, mahasiswa FTJE 1980, yang juga senior Andreas di Imbas. Stanley menjelaskan bahwa pendirinya ada beberapa orang, antara lain Ferryanto, angkatan 1981 dan Iwan Prasetyo, angkatan 1979.

Tidak hanya kritis terhadap kebijakan rektorat dan kegiatan kemahasiswaan, Imbas kritis pula pada kebijakan pemerintah. “Paling kencang mengenai ujian nasional. Waktu itu anak-anak elektro banyak yang boikot ujian tersebut,” ujar Andreas, yang pernah mendapat Nieman Fellowship on Journalism dan ditandatangani langsung oleh Bill Kovach, pengarang buku The Element of Journalism.

Begitu dekatnya Andreas dengan Imbas, dalam tulisan Satria, ia mengatakan “Saya ‘kuliah’ di Imbas, bukan di elektro.”

Suratnya Arief Budiman
Perjalanan panjang menemani karir Imbas di UKSW. Pada 1987, Imbas diberedel. Stanley dalam buku yang berjudul Negara, Intel dan Ketakutan menjelaskan bahwa Imbas diberedel rektorat karena “tidak tunduk pada ketentuan yang ada”.

Sementara Ferry Karwur, Ketua Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) 1988-1989, sekarang dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), dalam tulisannya mengaku harus menghadapi pertanyaan intelijen dan Korem, gerakan kiri mahasiswa, serta bersitegang dengan awak redaksi Imbas.

Waktu itu, situasi di UKSW sedang panas. Kemelut dimulai ketika Arief Budiman mengirimkan surat kepada rektor Willi Toisuta pada 31 Juli 1987. Arief menegur pimpinan universitas karena secara pribadi terlibat dalam bisnis dan proyek, yang menjadikan mereka jarang mengajar di kampus.

Arief juga menyentil beberapa skandal moral yang melibatkan tokoh kampus dan monopoli pembelian alat praktikum elektro dan alat laboratorium Fakultas Biologi (FB) dan Fakultas Pertanian (FP).

Imbas kemudian menurunkan tulisan tentang proyek-proyek pribadi di universitas, di dalamnya terselip fotokopi surat Arief. Majalah kemudian diterbitkan dan disebarluaskan pada acara Dies Natalis UKSW, 30 November 1987.
Seperti diakui oleh Stanley, Imbas memang mengangkat topik terkait skandal di UKSW dalam upaya menjadikan kampus sebagai centre of excelent. “Karena itu, surat Arief Budiman yang mempertanyakan kebijakan rektor dalam menyelesaikan sejumlah skandal di kampus dimuat. Begitu pula wawancara dengan Arief Budiman, Willi Toisutta dan pihak yayasan,” jelas Stanley. Majalah Imbas edisi tersebut tersebut laku keras. Cetakan pertama yang berjumlah 500 buah habis dan dicetak ulang. Angka yang besar bagi pers mahasiswa zaman itu.

Sejak penyebaran surat, UKSW seperti kebakaran jenggot. Pada Senin, 7 Desember 1987, puluhan mahasiswa berdemonstrasi sehabis kebaktian. Mereka memprotes Arief Budiman dan Imbas. Spanduk-spanduk dengan kata kasar dibentangkan. Antara lain “Arief Budiman go to hell”, “Imbas majalah gosip”, “Singkirkan orang-orang yang ingin menjatuhkan UKSW”, dan “Imbas go to hell”.

Demonstran mengedarkan selebaran, bunyinya seperti ini:

… Suhu kampus meninggi, apalagi dengan adanya tulisan yang cukup memalukan. …
Mungkin itulah cara penulis majalah Imbas yang sengaja menjatuhkan kredibilitas dan integritas golongan suprastruktur di kampus kita.

Terlepas dari ada-tidaknya fakta, tulisan itu dinilai sebagai vonis yang terlalu dini karena tidak didasarkan pada penyelidikan yang akurat dan lengkap.

Ungkapan yang memalukan kepemimpinan UKSW itu sebenarnya adalah luapan emosi suatu kelompok yang tidak matang berpikir. Tulisan-tulisan di Imbas itu isinya hanya gosip, mengadu domba, dan menjatuhkan kredibilitas seseorang.

Sementara UKSW berusaha melebarkan sayap idealismenya untuk menolong masyarakat di daerah terbelakang, muncul pihak oposisi yang tidak lebih dari “musuh di dalam selimut”!
Sebagai “creative minority” seharusnya kita mampu berpikir positif, tidak memihak, analitis dan kritis, serta menempatkan persoalan pada tempatnya.

Hei, Imbas! Kau tidak lebih dari manipulator yang anarkis, yang memprovokasi stabilitas; kau tidak lebih dari pencemar lingkungan!!! Ingat! Jika kau merasa diri hebat, tunjukkanlah kehebatanmu itu secara bertanggung jawab! Berpikirlah yang objektif! Belajarlah berterima kasih jika kau harus berterima kasih! Jangan kau mengkhianati UKSW sebagai bagian darimu, gereja, masyarakat, dan bangsa, seperti seorang yang setelah diberi makan lalu “berak” di piringnya…..

Tanggapan Stanley? “Tidak ada tanggapan. Itu adalah tulisan Rui Gomez, mahasiswa asal Timor Timur yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah RI dan dekat dengan rektor,” ujar Stanley.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s