Ciduk

Mbah Waginem sudah tidak kuat berjalan, kakinya bergetar terus. Kalau ke ruang tamu, harus dipapah cucunya. Setelah sebelah matanya menderita katarak, Mbah Waginem hanya menyaksikan remang kegelapan selama 20 tahun. Sebuah waktu yang menyiksa untuk akhir hidup.

“Mbah, usianya berapa mbah?” tanya Maya dalam Bahasa Jawa.

“Hah..?” jawab mbah.

“Usianya berapa?”

“Tidak dengar…”

Sudah pincang, buta, tuli pula. Cucunya yang lain mengantar teh, ia berkata “agak nyaring tidak apa-apa mbak, mbahnya budeg[1]”. Menurut pengakuan cucunya, usia Mbah Waginem sudah ratusan tahun.

Maya mengangguk. Setelah itu ia menengguk teh yang dihidangkan, karena terlalu manis Maya pun tersedak. Dimas hanya tersenyum ringan.

“Dari kemarin teh manis terus, pulang-pulang kencing manis kita,” ujar Maya pelan. Sang cucu tersenyum bodoh. Ini adalah wawancara yang kesekian kalinya. Sudah seminggu ini mereka berdua mendatangi belasan mbah-mbah yang berada di desa Batugur. Berarti, belasan kali pula mereka meminum teh manis.

“Ya, mau bagaimana lagi. May, coba tanyakan ke mbah, ingat londo[2] gak?” pinta Dimas.

“Mbah ingat londo? Putih-putih membawa bedil begitu?”

“Hah? Agak nyaring..” ujar Mbah Waginem.

“Londooooo….,” mulut Maya monyong.

“Ngerti toh. Lah wong suamiku yang nembaki kok,” jawab Mbah Waginem.

“Nembaknya dimana? Bagaimana mbah? Coba ceritakan ke kami.”

“Ya itu, pemuda-pemuda desa tetangga datang ke sini. Ngajak suami saya, adek saya juga, untuk melawan londo-londo itu. Pakai apa itu namanya? Men.. min.. apa.. mines [3]? Itu ditanam-tanami di jalan. Waktu ada londo lewat ya, mobilnya meledak. Ada dua yang tewas, kakinya hancur semua. Pemuda-pemudanya menembaki mereka, tapi habis itu kabur.”

“Mbah waktu itu takut?” tanya Dimas.

“Apa…?”

“Mbah takut?” tanya Maya dalam Bahasa Jawa.

“Iya, wedi [4]. Setelah itu kan londo-londonya marah. Kembali ke sini pakai tank kok. Yang perempuan dan anak-anak pada mengungsi ke Merbabu. Jadi habis itu tidak mengerti apa-apa.”

Walau terbatuk-batuh, Mbah Waginem kemudian bercerita dengan semangat. Dimas yang tidak begitu faham Bahasa Jawa, meminta agar Maya menerjemahkan ceritah si mbah.

Waktu pertempuran dengan Belanda meletus, usia Mbah Waginem sudah 36 tahun. Seingatnya, waktu itu Indonesia sudah merdeka. Jika yang dimaksud Mbah Waginem adalah Invasi Militer Belanda pertama pada 1947, maka besar kemungkinan Mbah Waginem lahir pada 1910.

Memang, jaman dulu banyak orang belum mengenal penanggalan dan melakukan pencatatan kelahiran, sehingga kebanyakan orang sering mengira-ngira tahun kelahiran mereka sendiri. Atau mengkaitkannya dengan peristiwa-peristiwa besar. Termasuk Mbah Waginem.

Masih ingat dalam ingatan Mbah Waginem, ibunya bercerita bahwa kelahirnya bertepatan dengan kedatangan pasukan Belanda yang kedua kalinya di Batugur. Yang mereka ketahui, Belanda memang menguasai daerah mereka. Namun Belanda sangat jarang datang ke sana. Pertamakali Belanda datang, mereka membakar beberapa rumah dan membawa para lelaki yang kemudian tidak pernah kembali. Kakek Mbah Waginem salah satunya. Besar kemungkinan mereka terkena kerja paksa.

Kedatangan yang kedua pun telah berselang belasan tahun kemudian. Hanya pasukan Belanda yang baris-berbaris melewati desa itu. Tidak berhenti, hanya menoleh. Katanya, mereka dikerahkan untuk menghadapi pemberontak di barat desa. Setelah itu hingga beberapa tahun kemudian, tidak pernah kembali lagi. Desa Batugur seolah-olah terlupakan oleh mereka. Terhapus dari peta kolonial. Mungkin karena tidak ada yang bisa diperas.

Kemudian Jepang datang, penduduk desa yang mengungsi akhirnya kembali. Mereka berkumpul di rumah Kepala Desa. Di sana mereka untuk pertama kalinya melihat orang-orang Jepang. Kecil, putih, sipit. Mbah Waginem juga bercerita bahwa dia pernah dihukum dan disuruh senam ketika bertemu tentara Jepang. Mbah Waginem tidak tahu kenapa dia disuruh seperti itu.

“Mbah takut juga waktu itu?” tanya Maya.

“Lumayan. Tapi sepertinya mereka bercanda, karena sambil tertawa-tawa. Saya hanya enggeh doro [5],” ujar Mbah Waginem tertawa.

Mbah Waginem waktu itu mengaku sangat senang terhadap Jepang. Walau tidak fasih, ia hapal sedikit Bahasa Jepang.

“Kon’nichiwa, ogenkidesuka?” ujar Mbah Waginem menirukan Bahasa Jepang. Maya dan Dimas tidak mengerti sama sekali.

Menurutnya, tentara Jepang sangat baik hati, terutama kepada wanita. Mbah Waginem pernah melihat wanita-wanita dibawa ke kantor tentara Jepang di Boyolali. Katanya hendak diberi hadiah.

Maya dan Dimas berpandangan.

Jugun ianfu..” bisik Dimas.

Setelah itu, Belanda datang lagi. Waktu itu Belanda menjadi sering datang ke desa. Pejuang-pejuang datang dan menginap ke rumah. Setelah itu pergi. Datang lagi. Pergi lagi. Penduduk desa sering membantu pejuang. Memberikan makan atau menyembunyikan mereka, atau sekedar memberi tahu mengenai kondisi medan di sekitar Merbabu.

Suatu ketika Belanda datang dan memeriksa rumah penduduk. Mbah Waginem ketahuan sedang menyimpan seorang pejuang. Sang pejuang diseret ke depan rumah dan ditembak mati. Beruntung, sang suami sudah pergi sehari sebelumnya, sehingga tidak ikut ditembak. Hingga kini Mbah Waginem masih menyimpan topi pejuang yang ditembak tersebut.

“Suami saya yang sering memakai topi itu. Dipakai buat berkebun,” diakui mbah. Setelah itu ia terdiam lagi. Matanya menjadi merah basah.

Setelah meminum teh, Dimas memberikan anggukan ringan ke Maya sebagai tanda untuk memulai. Maya kemudian bertanya “kalau PKI masih ingat mbah?”.

Mbah Waginem tampak sedikit kaget.

“Saya lupa kalau itu, sudah lama sekali itu…” ujar Mbah Waginem.

Kemudian dengan polos mbah bertanya, “tapi saya tidak diciduk lagi toh?”

[1] Tuli.

[2] Belanda.

[3] Ranjau.

[4] Takut.

[5] Iya, tuan.

Iklan

Diterbitkan oleh

bimasatriaputra

Bima Satria Putra. Kelahiran Besarang, Kalimantan Tengah, 4 November 1994. Mahasiswa program studi ilmu Komunikasi jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Sosial & Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana. Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Lentera dan Federasi Mahasiswa Libertarian Salatiga.

Satu tanggapan untuk “Ciduk”

  1. Bima, saya Firdhaussi dari komunikasi UI. Saya sangat tertarik untuk diskusi dan ngobrol dengan kamu. Kebetulan rumah saya di salatiga dan senin ini akan pulang. Boleh saya minta alamat surel? Kabarnya akan sangat saya tunggu. Kamsiah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s