Amormetri: cinta dan pola-pola hitungannya

Math and love (Karya Tasia12).
Math and love (Karya Tasia12).

Menggunakan perhitungan dan rumus matematika pada perasaan manusia terasa tidak manusiawi. Merendahkan. Tapi aku percaya bahwa perasaan dapat dipelajari dengan angka-angka dan metode deduktif. Hasilnya pasti. Ada skala dan nominal, dan karenanya maka ia juga dapat dikurangi, ditambahkan, dikali, juga dibagi, macam operasi dasar bilangan.

Dulu sekali, saat manusia masih berburu dan meramu, kita tahu bahwa dua buah durian dan dua buah ikan jumlahnya sama. Perdagangan, yang belum sekompleks sekarang, memberikan nilai pada dua benda tersebut. Misalkan saja satu durian adalah sama dengan enam buah ikan. Jika kita memiliki salah satu dari kedua benda tersebut dan menginginkan yang lainnya, kita menukarnya. Bisa saja nilai-nilai pada setiap individu berbeda. Misalkan, karena seseorang tinggal di hutan dataran tinggi,  dengan resiko tinggi untuk mati karena kepala pecah kejatuhan durian. Ia kesulitan mendapatkan ikan dan karenanya ia rela memberikan enam buah durian untuk satu ikan. Karena baginya ikan berharga. Ia layak mendapatkannya dengan nilai yang ia sepakati.

Langkah selanjutnya memerlukan penulisan atau sistem simbol-simbol untuk mencatatkan bilangan. Inca menggunakan dawai bersimpul, atau orang-orang Eropa dengan barisan I,V, X dan seterusnya. Matematika sudah kompleks dan tidak sesepele enam buah durian dan satu ikan. Kita punya satuan untuk tebal rambut dan istilah untuk jumlah dengan delapan nol (0) dibelakangnya. Kita mencari-cari berbagai pola dan merumuskan konjektur baru untuk memperoleh kebenaran. Dan semuanya praktis, dan bidang-bidang baru terus saja ditemukan.

Aku bukan orang pertama yang merefleksikan ini: perasaan (cinta) bisa dihitung. Banyak orang juga pasti berpikiran begitu. Saat masih di sekolah dasar, seorang perempuan memegang tanganku saat jam istirahat. Teman-temannya tersenyum, memperhatikan kami berdua. Namun ia tidak mengatakan sepatah katapun, lalu pergi begitu saja sambil tertawa-tawa. Apakah ia menyukaiku?

Sejak itu aku mencoba menyusun sebuah rumus sederhana, berupaya untuk mencacah besaran abstrak dengan mengikuti prinsip-prinsip aritmatika dasar. Banyak variabel-variabel bodoh aku masukan, dan semuanya dijumlahkan. Semakin tinggi hasilnya, semakin besar kemungkinan ia menyukaiku.

Kita hanya terlalu naif, atau bodoh –termasuk aku-, untuk berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita soal perasaan. Kenyataan bahwa gagasan-gagasan soal perasaan terlalu abstrak namun sangat relevan dengan kehidupan, tidak secara mendadak membuat perasaan ditemukan penerapannya.

Kembali soal ikan, orang-orang di pegunungan juga bisa mendapatkan ikan beku atau kalengan. Ini memerlukan matematika lagi. Dari daya tahan ikan, biaya logistik, pembayaran pajak dan analisis pasar. Sama seperti bisnis ikan ini, pengalaman cinta yang berbeda butuh perhitungan yang berbeda. Suatu ketika aku pernah memiliki pacar yang tidak perlu dihitung lagi besaran cintanya. Hingga seorang perempuan datang dan aku jatuh cinta. Cinta ini, merobohkan semua asumsi-asumsi mapan yang ada di dalam pikiran. Anggap saja, bagaimana jika kita mengetahui bahwa pada akhirnya 1+1≠2, tetapi 3?

Saat itu juga aku seperti Phytagoras yang membangun theoremanya. Anggap saja, perasaan cinta adalah sebuah skala dengan satuan dari 0-10. 0 adalah tidak cinta dan 10 adalah sangat cinta. Permasalahannya tidak seperti saat aku di sekolah dasar, ketika rumusannya hampir mirip untuk menentukan berapa besaran skala cinta perempuan yang memegang tangan aku di jam istirahat. Saat ini, skalanya digugat, untuk menjawab apakah perasan cinta dapat digunakan secara ganda atau tidak? Maksudnya, apakah aku bisa menggunakan skala tersebut untuk satu perempuan saja atau lebih?

Karena tidak mau ambil pusing, aku ganti saja skala cinta menjadi 100%. Aku tinggal membagi, berapa porsi cinta untuk kedua perempuan tersebut. Ada berbagai hal yang tidak bisa aku sampaikan pada tulisan ini, namun aku mendapatkan hasil bahwa sebelum perempuan kedua, perasaan cintaku adalah 100% untuk perempuan pertama. Namun perempuan kedua ini berhasil mencuri hingga 60%. Jika bukan karena ketakutan dan kesetiaan, angka tersebut akan meningkat.

Kemudian aku mulai berpikir: adalah tidak adil jika aku membagi-baginya, memberikan sekian % untuk seseorang, dan berapa % sisanya untuk yang lain. Namun, asumsi yang roboh seperti aku jelaskan sebelumnya bukan pada apakah perasaan cinta tidak boleh dibagi, tetapi kenapa dapat dibagi tetapi secara tidak adil? Tidak bisakah semuanya 100%?

Jawabannya tidak bisa. Dan ini tidak adil (hal ini bisa aku tulis pada kesempatan yang lain). Kita hidup dalam masyarakat yang relasi sosialnya sudah diatur dengan rumus yang ‘adab’. Rumusan ini adalah bahwa seseorang hanya mencintai dan memiliki seseorang saja. Sepasang saja. Macam dua variabel yang apapun perhitungan konstannya, hasilnya sama.

Selain itu, kita tidak bisa menolak kenyataan bahwa matematika sangat bermanfaat bagi kehidupan, bagi perkembangan teknologi dan sains, atau pada upaya konservasi lingkungan. Matematika hidup di alam gagasan dan diterapkan pada kenyataan. Menggunakan matematika pada perasaan manusia memang tidak sepenting menghitung secara matematis perubahan atmosfir apabila meteorit seberat sembilan ton jatuh ke samudra atlantik. Tidak mendesak, tapi penting.

Walau penting, sialnya jawaban pada setiap kasus yang melibatkan perasaan-perasaan dari nurani manusia selalu berubah dan dinamis. Karenanya hitungan matematika menjadi percuma, bahkan untuk ukuran perhitungan dasar bodoh seperti yang aku lakukan. Banyak faktor-faktor lain yang dapat mengubah jawaban tersebut secara spontan dan sporadis. Karenanya mengembangkan amormetri –begitu aku menyebutnya- dengan perhitungan yang lebih kompleks adalah percuma. Siapa ahli matematikawan yang menghabiskan masa hidupnya untuk ini? Kecuali Edward Frenkel, ahli lain akan memilih untuk dibayar pada laboratorium medis pabrik farmasi.

Karena jawaban-jawaban yang dapat berubah sewaktu-waktu dan terkadang tidak bisa dijawab, justru ini yang menarik. Bagaimana mungkin kita melakukan penghitungan untuk menghindari resiko secara rigid untuk memutuskan mengajak seseorang makan malam atau tidak? Resiko-resiko ini adalah jawaban yang tidak terduga dari perasaan manusia. Membawa perasaan manusia dari percobaan matematis ke lapangan lain. Ke sesuatu yang baru untuk pengkajian kaku soal ketidakpastian. Ini indah.

Iklan

Diterbitkan oleh

bimasatriaputra

Bima Satria Putra. Kelahiran Besarang, Kalimantan Tengah, 4 November 1994. Mahasiswa program studi ilmu Komunikasi jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Sosial & Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana. Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Lentera dan Federasi Mahasiswa Libertarian Salatiga.

Satu tanggapan untuk “Amormetri: cinta dan pola-pola hitungannya”

  1. Ophelia (selanjutnya disebut O), tokoh utama di filem “The Savages”, punya dua kekasih laki-laki (Ben dan Cho) yang saling bertolak belakang kepribadiannya, meski punya satu minat yang sama: bisnis ganja.

    Kata O, Ben seperti kayu bakar yang hangat, Cho seperti baja dingin. Ben seorang relawan kegitan sosial. Cho tentara perang di Afghanistan. Kadang O ngentot sama Ben, kadang sama Cho. Di filemnya, ada juga adegan threesome mereka. Nontono.

    O mengaku, bersama dua kekasihnya itu, ia merasa seperti sedang bercinta dengan satu laki-laki yang utuh. “Together, I feel them all as one completely man,” jarene O. Bedanya, pola-pola hitunganmu pada perasaan dan cinta tidak digunakan O (atau karena memang tidak diceritakan sama yang bikin filem). Tapi O sadar kalau dia punya ketertarikan ganda yang tidak saling mengendorkan satu sama lain. Tidak timpang.

    Satu juga yang penting, tapi tidak mendesak. Cinta tidak sama dengan perasaan. Tapi orang cuma mengerti bahwa cinta adalah perasaan. Padahal mereka tidak sama. Perasaan bisa saja salah atau meleset, karena perasaan bukanlah kenyataan itu sendiri. Perasaan harus dicek berkali-kali kebenarannya. Tapi cinta juga tidak benar dan tidak salah. Benar atau salah tidak lagi penting di dalam cinta. Dalam cinta ya hanya ada cinta. Ada jalinan hubungan kita yang tak sarat lelah, bosan, takut, atau setia. Selamanya begitu. Konstan. Abadi. Penuh misteri, namun tanpa setitikpun horor — di luar rasio. Selalu penuh dalam alam kenyataan, yang seperti katamu: indah dan tak seserius yang aku tulis di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s