Terlalu Keras, Ibukota Bikin Sakit Tiga Mahasiswa Magang

Arya Adikristya, mahasiswa UKSW, dalam kondisi sakit (Foto: Bima Satria Putra).
Arya Adikristya, mahasiswa UKSW, dalam kondisi sakit (Foto: Bima Satria Putra).

Arya Adikristya tampak lemas di atas kasurnya, pada Selasa (24/01) di Jakarta. Baru tiga hari ia di kota ini. Setelah lelah berjalan-jalan pada hari pertama di kampus Universitas Indonesia, ia sudah meminta pulang. Padahal ia bersama dua temannya lagi berencana untuk menginap di Depok. Kenapa? “Entahlah, ingin pulang saja,” ujarnya layu. Keesokan malamnya, mahasiswa UKSW ini tidak bisa tidur hingga pukul 4 pagi. Lusanya ia sudah berobat ke Rumah Sakit Agung dan terlentang seharian di kasur.

Bersama Arya, ada Ruhaeni Intan, lulusan Politeknik Semarang, yang merasakan panas tubuhnya meningkat. “Sepertinya besok aku sakit,” ujarnya sembari mengenakan masker. Di sepanjang perjalanan pulang, Intan tertidur. Beruntung ia menaiki commuter line, bayangkan jika menaiki ojek daring. Dan Intan benar,sehari kemudian ia mengunggah foto obat-obatan yang harus ia minum ke salah satu akun media sosialnya.

Obat-obatan yang harus dikonsumsi oleh Ruhaeni Intan selama sakit (Foto: Ruhaeni Intan).
Obat-obatan yang harus dikonsumsi oleh Ruhaeni Intan selama sakit (Foto: Ruhaeni Intan).

Mereka berdua adalah mahasiswa yang sedang menjalani program magang di tirto.id, sebuah situs berita daring di Jakarta. Sebagai pendatang baru, mereka berdua harus beradaptasi di ibukota republik. Merasa menyesal magang di Jakarta? “Lumayan,” ujar Arya singkat. Sementara Intan sudah mengeluh ingin pulang.

***

Berita di atas tidak mungkin terbit di rappler.com, situs berita daring di Jakarta, tempat aku magang. Iya, aku bersama Arya dan Intan magang di Jakarta. Beruntung bagi mereka karena masa magangnya hanya sampai 20 Februari. Sementara aku, harus bertahan hidup sampai akhir maret. Sebulan 20 hari lebih lama. Aku bahkan sudah berencana untuk mempercepat masa magang.

Mereka berdua lebih lemah dari diriku? Jangan salah. Seminggu di Jakarta, aku merasakan badanku menjadi panas dan tenggorokan semakin kering. Aku juga mendekam seharian di kamar, menggelinjang dan mengeluh, seperti narapidana pecandu narkoba yang membutuhkan obat.

Jakarta sering disebut-sebut sebagai kota yang keras. Aku sudah tahu sejak lama. Transportasinya sangat buruk. Jarak 5 km yang dengan kecepatan normal dapat ditempuh dalam waktu 5-10 menit di Salatiga, akan menghabiskan waktu dua hingga tiga kali lipatnya. Itu jika macetnya masih ‘normal’.

Beberapa inovasi transportasi Jakarta beberapa tahun terakhir cukup membantu. Kondisi commuter line jauh lebih bersih, nyaman dan aman. Ada busway yang meningkatkan jumlah pengguna transportasi publik dan rencana pembangunan Mass Rapid Transport (MRT) yang baru terlihat pondasinya saja di sepanjang Thamrin. Dan tidak lupa, ojek online.

Namun, berbagai kebijakan terkait transportasi massal Jakarta ternyata dinilai tidak cukup efektif. Menurut Rozinul Aqli, mahasiswa masters di School of Global Affairs and Public Policy di Kairo, kita meyakini kekeliruan asumsi soal transportasi massal di Jakarta. Seperti banyak permasalahan di dunia, permasalahan transportasi juga melibatkan sektor lain, termasuk tata ruang perkotaan.

“…Bahwa para pekerja tinggal jauh dari kantornya adalah hal yang wajar. Asumsi ini, sebagaimana akan ditunjukan nanti, keliru,” tulis Aqli. Menurutnya, akan lebih baik jika pekerja bisa tinggal di dekat kantornya. Permasalahannya, harga sewa atau beli properti di pusat kota, di mana kebanyakan kantor itu berada, tak terjangkau dan tak sesuai dengan kebutuhan mereka. Harganya terlalu tinggi bagi banyak pekerja Jakarta, dan mereka semakin tersingkirkan ke wilayah sub-urban Jakarta. Konsekuensi dari hal ini adalah tingginya tingkat mobilisasi pekerja untuk keluar-masuk Jakarta, akar permasalahan transportasi di Jakarta.

Aqli menyarankan untuk mengatasi persoalan kemacetan ini, pemerintah perlu mengganti paradigma tata ruang Jakarta, dari spesialisasi zona menjadi penggunaan lahan campuran (mixed land use). Hal ini berarti mengizinkan pembangunan hunian di wilayah perkantoran dan komersial dan sebaliknya. Jika reformasi ini dilakukan, kita bisa mengharapkan beberapa perubahan positif penting terjadi, terutama dalam meningkatnya suplai hunian di daerah dekat perkotaan. Harapannya, hal ini akan berdampak langsung terhadap volume kendaraan di jalanan Jakarta. (Lebih lengkap: Transportasi Massal Saja Tidak Cukup untuk Atasi Kemacetan di Jakarta).

Tak dapat dipungkiri memang, pembangunan yang tersentralisir dan timpang di Indonesia, juga berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah pendatang ke Jakarta untuk mencari lapangan pekerjaan. Ketimbang membuat larangan bagi pendatang ke Jakarta –seperti dulu pernah diwacanakan-, alangkah lebih baik jika kita melakukan tindakan lain yang menghalangi terjadinya peningkatan urbanisasi  -dan hal ini membutuhkan artikel lain untuk didiskusikan.

Selain biaya logistik yang semakin mahal, dampak buruk dari kemacetan adalah polusi. Dalam catatan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan DKI Jakarta, kualitas udara di Jakarta sangat buruk, terutama di Jakarta Utara yang rata-rata kandungan ozon (O3) di level 38,25. Nilai tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di wilayah kota lain di Jakarta. Kemacetan dan udara yang menyesakan dada, membuat kami bertiga tumbang tak berdaya. Merengek-rengek hendak pulang.

Hal buruk lain soal Jakarta adalah tingginya pelecahan seksual (sexual harassment) di Jakarta. Kate Walton, seorang relawan di Koalisi Perempuan Indonesia di Jakarta, melakukan eksperimen sosial kecil-kecilan. Ia memakai skirt yang tidak menutupi perutnya dan mencoba berjalan dari Senayan Plaza hingga Pasar Senen.

Sebagai seorang perempuan kulit putih asing, ia menyangka akan mendapatkan perlakuan yang lebih baik ketimbang perempuan lokal. Hasilnya? Ia mengalami 13 pelecehan seksual ringan selama 35 menit dari 15 laki-laki. Dalam akun Twitternya, Kate pernah mengaku mengalami pelecehan yang lebih parah, seperti ajakan untuk melakukan seks dan bagian tubuh yang diraba-raba (Lebih lanjut: Sexually Harrased 13 Times in 35 Minutes: Why Jakarta’s Streets Are Not A Safe Space for Woman).

Apa? Anda menyalahkan Kate karena berpenampilan seperti itu? Ayolah. Libidoku mungkin juga meningkat, namun bisakah kita (baca: laki-laki) terangsang dengan lebih terhormat? Kita seringkali masih menyalahkan perempuan atas penampilan dan perilaku mereka. Anehnya, sebagai korban, kenapa justru mereka yang dipenjara? Maksudnya, bagaimana mungkin kita menahan perempuan di kamar sementara predator-predator bebas berkeliaran di jalanan. Tidak adil sekali.

Seorang teman perempuanku di Jakarta juga mengalami pelecehan seksual parah. Bahkan bagi dia yang berpenampilan dan berperilaku ‘baik’ di mata masyarakat. “Tanpa perlu tinggal di kota atau di kampung, perempuan memang menanggung banyak resiko,” ujarnya.

Berbagai permasalahan ini tidak membuatku mudah menyerah. Setiap pulang kerja, aku membuat segelas cokelat panas dan mendengarkan The Black Keys. Ini cukup membantu. Termasuk menulis berita dan keresahan di atas.

Iklan

1 thought on “Terlalu Keras, Ibukota Bikin Sakit Tiga Mahasiswa Magang”

  1. […] temannya jatuh sakit setelah tiga hari di jakarta, mereka ini magang di ibukota, Bima menulis judul Terlalu keras, ibukota bikin sakit tiga mahasiswa magang. Konyol saja judulnya, tapi mungkin itu benar jika kau mencermati […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s