Di Bawah Peron Stasiun

Di Bawah Peron Stasiun (Karya Bima Satria Putra)
Di Bawah Peron Stasiun (Karya Bima Satria Putra)

Seorang karyawan pabrik tekstil masuk ke dalam stasiun. Kartu pengenalnya ia tutupi di balik mantel. Padahal jabatannya tidak rendah, tapi tetap saja ia malu. Sebagai pengawas produksi, tugasnya cuma satu, mengawasi lima ratus pekerja lain supaya bekerja dengan benar. Ada beberapa prosedur yang harus mereka taati. Ia dapat menegur pekerja jika terjadi kesalahan. Sayangnya, ia tidak dapat menegur manajer pengolahan akhir dan direksi karena membuang limbah.

Pabriknya membuang limbah ke sungai kota yang sudah kotor. Setelah jadi pembicaraan hangat di berbagai media selama tiga bulan terakhir, protes warga kota membuat dirinya malu karena menjadi bagian dari perusakan. Beberapa pekerja yang tidak tahu apa-apa dipukuli. Karena itu ia harus menyembunyikan apapun yang dapat mengaitkan dirinya dengan perusahaan. Ia takut dipukul juga.

Ia terpaksa tetap berkerja di sana walau sudah berencana untuk pindah. Sayangnya tidak bisa. Selain karena tidak punya pilihan lain –karena banyak perusahaan sudah memutuskan kontrak dengan pekerja untuk mengurangi ongkos produksi, ia juga menyukai seorang pekerja perempuan. Cantik, namun angkuh. “Tapi keangkuhannya ini cantik,” pikir pengawas.

Setiap hari, ia harus mengenali ratusan karyawan yang memakai seragam kerja yang sama, dengan pelindung rambut dan masker yang sama. Namun ia dapat dengan cepat menemukan pekerja perempuan itu. Dari parfumnya!

Sekarang ia sudah di dalam stasiun, dan suasananya tidak jauh berbeda dengan pabrik, hanya saja lebih bersih. Rasanya, ia seperti keluar dari satu pabrik dan masuk ke pabrik yang lain.

Ia sedikit lapar, jadi ia membeli roti yang agak mahal di kafe di dalam stasiun. Keluar dari kafe, ia mendengar pengamen yang sedang bernyanyi. Mencolok, karena tidak banyak suara yang keluar dari ribuan penumpang kereta yang tidak bersuara. Seperti patung-patung kelelahan yang bergerak. Yang terdengar hanyalah pemberitahuan dari pengeras suara atau petugas yang kelelahan memberikan pengarahan kepada penumpang. Juga sayup-sayup roda dan cerobong kapitalisme di sebelah utara stasiun.

“Ini, terimalah,” ia memberikan rotinya kepada pengamen itu.

Pengamen berhenti memainkan gitar dan berkata, “Aku tidak bermaksud sombong. Tapi makan saja rotimu. Aku tahu kamu tidak ingin makan di rumah,” ujar pengamen.

“Kulihat tas gitarmu tidak penuh dengan uang. Bahkan tiga hari mengamen pun kamu tidak akan mampu membeli roti yang aku beri. Jadi, kenapa menolak?” ujar pengawas.

“Ada sepuluh roti rusak dan beberapa roti yang masih utuh di tong sampah di luar stasiun, sama seperti yang kamu berikan. Aku bisa mengambilnya di sana.”

Pengawas duduk. “Angkuh sekali pengamen ini,” pikir pengawas. Ia memang tidak betah makan di rumah. Apa enaknya memakan mie instan kuah buatan istrinya, yang ditaburi bawang goreng yang sudah tidak gurih?

“Hebat ya, jadi kamu sering makan roti ini?” tanya pengawas.

“Hebat ya, tidak menghargai masakan istri,” sindir pengamen.

Pengawas berdiri, ia marah. “Kamu tidak menghargaiku! Apa hebatnya memungut sampah?”

“Kalau begitu, apa hebatnya membeli sampah?”

“Ini bukan sampah, ini masih layak dimakan!”

“Begitu pula dengan roti-roti di tempat sampah! Orang-orang sepertimu membuangnya!”

Pengawas terdiam. Ia duduk kembali. Ia juga tidak ingin terburu-buru sampai di rumah.

“Maafkan aku,” ujar pengamen. “Aku hanya muak dengan orang-orang sepertimu. Kasihan,” lanjutnya. Ia kembali bernyanyi dan memetik gitar. Ribuan orang tidak mempedulikannya. Tapi sesekali ada uang koin dilemparkan.

“Kamu seperti robot. Kamu pulang dari kantor, dan tahu arah jalan pulang bahkan walau matamu tertutup. Kamu tahu kapan kakimu harus beranjak keluar dari gerbong kereta bahkan jika telingamu juga disumbat. Rutinitas. Ya, rutinitas! Pembelenggu dari jiwa-jiwa manusia yang bebas!” ujar pengamen.

“Coba, kamu ubah perkataanmu menjadi lirik lagu,” tantang pengawas.

“Bisa,” jawab pengamen.

Pengamen pun bernyanyi, “Anak-anak menangis meminta susu, tapi apalah daya ibu? Ibu memilih mati, meninggalkan ayah yang mengamuk dan memukul anak-anaknya.”

“Pantas saja kau tidak mendapatkan banyak uang. Nyanyianmu lirih untuk pekerja yang letih,” ujar pengawas.

“Ya, aku tahu.”

“Lalu mengapa kamu memilih seperti ini? Kamu kelaparan dan petugas di pos penjagaan mengincarmu, dan kamu merasa bebas?” heran dia.

“Ya. Aku berupaya bebas, sayang tidak bisa.”

“Lalu mengapa masih kamu lanjutkan?”

“Apa? Kamu berharap aku mengisi formulir lamaran untuk beberapa rupiah supaya tetap hidup?”

“Tentu saja.”

“Tidak mau. Aku kuat dan aku bisa. Kita kuat dan kita bisa.”

“Maksudmu?”

“Seandainya setiap orang dari ribuan penumpang di stasiun malam ini memberikan roti pada yang lain, aku tidak perlu mengamen, juga anak di sana,” ujar pengamen sambil menunjuk. Jauh di sana, di balik bayang-bayang kabur orang yang seliweran, dua anak kecil memainkan batu-batu di dekat rel. Mereka mengemis.

“Lebih baik kamu berikan saja rotimu pada mereka,” ujar pengamen.

“Itu filantropi,” ujar pengawas.

“Bukan. Itu solidaritas.”

“Kami berkerja keras, sementara apa yang kamu lakukan?”

“Seandainya aku berpendidikan pun, aku tidak akan sama dengan dirimu. Ada beberapa orang yang karena kesialannya tidak bisa mendapatkan apapun, tapi kamu menyebutnya sebagai pemalas.”

“Kenapa tidak berusaha?”

“Tidak mungkin bisa! Semuanya adalah kompetisi, bukan kerjasama. Sayangnya aku hanya lulusan sekolah menengah, dan aku tidak ingin menjadi pekerja.”

“Kenapa? Tidak bebas?”

“Iya, aku hanya berusaha bebas. Sayang tidak bisa. Orang-orang sepertimu berpikir bahwa yang kuatlah yang menang. Sayangnya kekuatan tersebut dihasilkan dari darah dan air mata, seandainya kita punya modal yang sama, baru kita bersaing dengan sehat. Apa? Mustahil kita bisa mengalahkan orang-orang berdasi yang bahkan seumur hidupnya belum pernah ke stasiun karena ia mengendarai mobil pribadi.”

“Dimana kamu tinggal?” tanya pengawas.

“Di gedung teater tua yang terbengkalai, dua blok dari stasiun.”

“Di sana luas? Ada berapa orang yang tinggal di sana?”

“Cukup luas. Mungkin sampai tiga puluh orang, termasuk dua anak kecil yang mengemis itu. Di sana kami berkerja sama untuk tetap hidup.”

“Misalnya?”

“Kami bercocok tanam, siapapun yang kuat dan sempat, bisa memegang sekop. Ada beberapa gelandangan tua yang tidak kuat, jadi dia hanya menikmati hasil panen kami. Tapi ia memasak untuk seluruh gelandangan.”

“Kamu tidak punya rumah?”

“Punya, di desa, sebelum tambang batubara menghancurkan segalanya. Aku tidak kabur, orang tua pergi ke kota untuk tetap bertahan hidup. Tapi disinipun aku dihancurkan.”

“Mereka masih hidup?”

“Tidak. Ayahku meninggal karena berkelahi, sementara ibuku meninggal karena penyakit kelamin. Ia melacur. Sial ya? Bagaimana lagi? Orang-orang kaya punya rumah besar dan halaman yang luas, sementara kami tidak memiliki seinci pun. Mereka bisa mendapatkan pengobatan, kami tidak.”

“Apa yang kamu inginkan?”

“Hak yang sama untuk semua orang dan kesetaraan.”

Pengawas itupun ketawa. Roti yang ia beli hampir remuk. Ia tidak tahan mendengar lelucon konyol itu.

“Kamu komunis?”

“Bisa jadi.”

“Kenapa kamu ragu?”

“Aku tidak percaya dengan perwakilan pekerja di parlemen. Apakah kamu ikut pemilihan?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Pengawas terdiam. Ia sadar bahwa ia punya pandangan yang sama dengan pengamen itu. Beberapa orang punya niat baik untuk terjun ke politik, tapi semuanya rusak. Semuanya kalah.

“Aku benci politik,” jawab pengawas kemudian.

“Bukan, kamu benci negara. Kamu tidak ikut pemilihan sebenarnya adalah bagian dari pembangkangan sipil. Itu tindakan politikmu,” ujar pengamen.

Pengawas terdiam. Lagi.

“Lalu apa yang harus kita lakukan? Tidak berkerja? Tidak ikut pemilihan?”

“Terserah. Lakukan apapun yang membahagiakan dirimu.”

“Pandanganmu aneh. Dari mana kamu punya pikiran seperti itu?”

“Kami punya forum diskusi di gedung teater,” jawab pengamen.

“Apa bedanya dengan orasi yang diadakan serikat pekerja di pabrik?”

“Mereka diarahkan untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk memberikan keuntungan pada segelintir orang. Kami tidak. Kami berupaya untuk membongkar pemikiran mapan yang bodoh. Seperti pikiranmu.”

Tiba-tiba mantel pengawas ditarik dari belakang. Dua anak pengemis itu yang menariknya. “Bisa aku minta rotimu? Dari pada kamu menyiakannya?” ujar salah satunya.

“Dari mana kamu tahu aku akan membuangnya? Aku berencana untuk memakannya loh,” ujar pengawas.

“Lalu mengapa kamu berbicara dengan pengamen, Pak? Kamu pasti berniat untuk memberikannya.”

Sekali lagi pengawas terdiam. Ia benar-benar menjadi tidak lapar. Lalu ia berikan roti itu kepada mereka. Mereka tersenyum pergi dan berjalan setengah melompat-lompat dan tidak mengucapkan terima kasih.

“Kamu pengamen yang sok bijak,” ujar pengawas.

Lalu ia berkata, “Bukankah..” ucapan pengawas langsung terpotong. Peluit peringatan dari petugas yang mengacungkan pentungannya ke arah pengamen membuat mereka berdiam ternganga.

“Dengar ya! Biasanya aku lari jika dikejar petugas. Kali ini tidak. Coba kamu duduk di sini hingga penumpangnya sepi. Kita lihat kebijakan apa yang kamu dapatkan,” ujar pengamen.

“Gitar ini,” ujar pengamen sambil menunjuk pada gitarnya, “Bisa dipetik untuk menghasilkan harmoni yang indah. Tapi gagangnya bisa kugunakan untuk memukul kepala petugas,” lanjutnya.

“Apa maksudmu?” tanya pengawas.

Pengamen tersebut langsung ditangkap petugas.

“Aku punya kehendak bebas untuk menggunakan gitarku!” teriak pengamen sambil di seret. “Omong-omong, aku seorang anarkis!” teriaknya lagi sayup-sayup ditelan deru kereta yang tiba.

Ia langsung hilang setelah diseret keluar. Kini pengawas sendirian, memperhatikan orang-orang berlalu-lalang. Ia tidak masuk ke dalam kereta.

Kemudian ia mencium sesuatu yang wangi, bebauan yang sangat ia kenali, dan sangat ia cintai. “Wangi ini…”

Pengawas menoleh ke kiri dan ke kanan. Hingga kemudian seorang pekerja perempuan cantik lewat dihadapannya. Pekerja perempuan yang ia sukai.

“Hei.. nona,” panggil pengawas. Ia berdiri dan mencegat perempuan tersebut.

“Pergi dariku!” hardiknya. Ia terdiam dan perempuan tersebut buru-buru pergi. Hampir saja terpeleset karena keburuannya. Sementara pengawas itu duduk kembali. Ia menangis.

“Sebenarnya apa yang salah dengan kehidupan ini?” ujarnya. Ia duduk termenung hingga tengah malam. Hari itu juga ia mendapatkan pencerahan.

Iklan

Diterbitkan oleh

bimasatriaputra

Bima Satria Putra. Kelahiran Besarang, Kalimantan Tengah, 4 November 1994. Mahasiswa program studi ilmu Komunikasi jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Sosial & Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana. Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Lentera dan Federasi Mahasiswa Libertarian Salatiga.

Satu tanggapan untuk “Di Bawah Peron Stasiun”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s