Dua Bocah Sialan

Dua bocah sialan (Karya Bima Satria Putra)
Dua bocah sialan (Karya Bima Satria Putra)

Ada dua orang bocah gelandangan. Yang satu bodoh, tapi kuat dan berbadan besar. Yang satu pintar, tapi lemah dan berbadan kecil. Jadi, persahabatan mereka berdua, anggap saja, saling melengkapi.

Mereka tidak tahu darimana mereka berasal. Sejak sadar dengan kehidupan, mereka sudah tinggal di bekas gedung teater tua dan dirawat oleh semua gelandangan kota.

“Kamu lihat patung pendiri kota di taman? Kalian berdua lahir dari situ,” ujar seorang pencuri kepada mereka.

Jadi, patung itu mereka sebut patung ayah. Patung tersebut memakai topi bundar dan memegang tongkat. Di bawahnya tertulis, “Kota ini untuk pembebasan, solidaritas dan kebahagiaan -1879.”

“Jadi ayah suka berbicara omong kosong, ya?” tanya bocah bodoh.

“Benar. Seperti orator partai pekerja,” ujar bocah pintar. Mereka tertawa dan menjatuhkan es krim yang mereka beli. Lalu menangis.

“Sepertinya kita tidak boleh mengejek orator partai,” ujar bocah bodoh, menjilati stik es krim yang sudah kotor.

Di gedung teater, ada seorang kakek gelandangan yang lumpuh. Ia tidak bisa berkerja, tapi pintar memasak. Bocah-bocah ini tidak boleh pulang telat dari jam tujuh. Bukan karena takut dimarahi, tapi takut kehabisan masakan kakek. Karena ada puluhan gelandangan lain yang juga berebut makan.

Karena malas bertani -gelandangan gedung teater juga menanam di halaman belakang gedung teater-, mereka berdua menghabiskan hari dengan mengemis atau mencuri. Di belakang kantor dinas walikota di pusat kota, ada pos polisi yang galak-galak. Mereka sering diusir karena berpakaian kumuh. Padahal di situ berseliweran orang-orang kaya. Mereka bisa kenyang jika menghabiskan hari di situ.

“Heh! Pergi kalian!” bentak seorang polisi.

Karena kesal, bocah pintar mengambil batu dan melemparkannya ke pos polisi. Lalu lari. Padahal lemparannya meleset. Polisi galak bahkan tidak menyadarinya.

Kawasan utara kota adalah area industri, jadi lebih banyak pekerja yang miskin-miskin. Jadi, mereka lebih memilih stasiun supaya bisa hidup.

Suatu hari, mereka bertemu dengan seorang pengawas dari pabrik tekstil lagi. “Pak, hari ini anda tidak memiliki roti?” tanya kedua bocah gelandangan itu.

“Tidak. Tapi aku memiliki sedikit uang, ambillah,” pengawas merogoh kantong mantelnya dan memberikan beberapa ribu rupiah pada kedua bocah tersebut. “Belilah roti sampai kalian kenyang,” ujarnya.

“Tidak, kami sudah kenyang. Jadi kami akan membeli beberapa batang rokok,” ujar bocah bodoh.

“Kalau begitu kembalikan uangku,” ujar pengawas.

“Tidak akan.” Bocah pintar mengacungkan jari tengahnya lalu mereka berdua pergi. Pengawas hanya menggelengkan kepalanya.

Toko grosir tidak akan melayani pembeli rokok di bawah umur. “Kalian terlalu kecil, pergilah,” ujar penjaga rokok.

“Kenapa kami tidak boleh merokok?” ujar bocah pintar.

“Rokok berbahaya bagi kalian. Kalian bisa mati.”

“Ketika dewasa pasti kami akan merokok. Jadi kami juga akan mati. Lebih baik berikan saja sebungkus, untuk apa menunda kematian?” ujar bocah pintar.

“Pokoknya tidak boleh!”

Mereka berdua kesal dan membanting pintu toko lalu lari. “Kita harus meminta tolong kepada orang dewasa,” ujar bocah pintar.

“Kepada siapa?” bocah bodoh bingung.

“Lihat bapak di sana. Coba kamu berikan uang kita dan minta tolong untuk membelikan rokok di toko.” Bocoh bodoh mendatangi seorang pria dewasa yang sedang duduk membaca koran.

“Pak, kami ingin membeli rokok, tapi dimarahi penjaga toko. Bapak bisa membelikannya untuk kami?”

Pria tersebut memandangi bocah bodoh dari atas ke bawah. Lalu melanjutkan membaca koran.

“Pak, kamu tuli?”

“Kamu punya berapa rupiah?”

“Ini,” bocah bodoh memberikan semua uangnya.

Pria tersebut menaruh korannya dan merogoh kantong kemejanya. Ia memberikan satu batang rokok lalu melanjutkan membaca koran. Bocah bodoh berterima kasih, tapi pria tersebut hanya diam.

“Akhirnya kita mendapat rokok,” ujar bocoh bodoh girang kepada sahabatnya.

“Hai! Kita bisa mendapatkan lebih banyak dengan uang dari pengawas! Bapak itu curang,” ujar bocah pintar marah. Mereka mendatangi kembali pria dewasa tersebut.

“Kembalikan uang kami!” Pria dewasa berdiri dan menatap kedua bocah tersebut. Bocah pintar langsung mencoba memukul dan didorong hingga terjatuh.

“Jangan lukai temanku!” bocah bodoh langsung memukul biji pelir pria tersebut. Pria brengsek itu langsung terjatuh dan berteriak-teriak. Kedua bocah langsung berlari jauh sekali, masuk ke dalam gang-gang sempit kota.

“Setidaknya kita punya sebatang rokok. Ehm, maksudku dua,” ujar bocoh bodoh. Ia menunjukan rokok yang sudah patah.

“Rokok itu sudah tidak bisa dihisap. Lagipula kita membutuhkan penyulut api,” ujar bocah pintar sedih. Ia terduduk.

“Semua orang dewasa sangat menyebalkan. Ketika aku dewasa, aku akan memberikan rokok kepada semua anak kecil di kota, cuma-cuma pula. Supaya mereka merasakan kebahagiaan. Liat saja nanti,” ujar bocah pintar.

“Kalau begitu ayo kita cari korek,” ajak bocah bodoh.

“Tidak. Aku malas. Cari saja sendiri.”

Bocah pintar memainkan ranting dan menulis-nulis di tanah. “OrAng d3wAsA m3ny3bALKAn,” tulisnya. Mereka berdua tidak pernah sekolah, jadi maklumi saja untuk pengejaan yang salah.

Bocah bodoh meninggalkan temannya yang merungut-rungut. Dimana ia harus mencari korek? Bocah bodoh teringat dengan beberapa restoran di sekitar situ. Jadi ia ke belakang gedung saja dan masuk melalui dapur. Pasti juru masak akan meminjamkan korek padanya.

Setelah berjalan tidak terlalu jauh, ia sampai ke pintu belakang restoran. Ada empat tempat sampah berukuran besar di belakangnya. Dan pasti.. aha! Banyak makanan lezat!

Restoran-restoran membuat porsi makanan enak dalam jumlah besar untuk sangat sedikit orang kaya. Tapi anehnya, orang kaya tampak tidak suka makan. “Mereka terlalu sering kenyang ya?” pikir bocah bodoh. Apa yang mereka makan sebenarnya? Jam tangan emas? Atau mantel mewah dari kulit jaguar?

Jadi dengan susah payah, bocah bodoh masuk ke tempat sampah besar di belakang restoran. Di dalamnya ada banyak potongan daging, sayur-sayuran dan buah-buahan. Semuanya tampak segar. Bocah bodoh jadi lupa dengan korek, makanan itu terlalu membuyarkan semuanya.

Rasanya sedikit aneh dan memualkan, tapi ia makan dengan lahap dan banyak sekali. Setelah itu ia mengambil plastik berukuran besar dan memasukan semuanya. Rokoknya jatuh ke tempat sampah dan ia tidak sadar.

“Pasti dia akan senang,” pikir bocah bodoh hendak membahagiakan sahabatnya. Ia pergi dari situ dengan dua plastik besar berisi makanan.

Awalnya dia berlari dengan sangat kencang, namun lama-lama ia kelelahan dan pandangannya kabur. Ia menjatuhkan plastik makanan dan muntah. “Pasti aku terlalu rakus,” ujarnya. Ia sangat tidak kuat berdiri, setelah hampir sepuluh menit terbaring, ia memaksa bangkit. Sekarang ia mengangkut plastik makanan dengan berjalan payah.

Tidak lama kemudian bocah bodoh tiba, dan berkata “Hei, lihat apa yang aku bawakan.”

“Wah, banyak sekali! Dari mana kau mendapatkannya?”

“Restoran, tidak jauh dari sini,” jawab bocah bodoh.

Bocah pintar kaget. Ia lama terdiam. Hingga kemudian bocah bodoh muntah kembali. “Aku terlalu banyak makan tadi, dan sekarang aku hendak buang air besar,” ujarnya.

Bocah pintar membaui makanan yang dibawa bocah bodoh. “Engkau makan cairan pemutih,” ujar bocah pintar kaget.

Ia ingat nasehat kakek gelandangan, “Restoran sering mencampurkan pemutih pakaian pada makanan sisa di tempat sampah,” ujarnya.

“Pada semua makanan?”

“Iya, bahkan pada makanan yang belum disentuh mulut orang kaya,” ujar kakek. “Restoran sangat pelit. Mereka bahkan merasa rugi jika makanan yang sudah dibeli diambil gelandangan,” lanjut kakek.

“Kenapa seperti itu? Bukankah akan lebih baik jika memberikannya gratis?” tanya bocah pintar.

Kakek tertawa. “Itulah kerakusan modal. Karena itu, restoran sering merusak makanan yang mereka buang.”

Mendengar cerita itu, bocah bodoh ketakutan. “Lalu kenapa?”

“Itu berbahaya. Sangat beracun,” ujar bocah pintar.

Bocah bodoh muntah kembali, “Aku sangat mual dan ingin buang air besar,” ujar bocah bodoh.

Sahabatnya mengambil segenggam pasir dan memasukannya ke mulut bocah bodoh. “Makan pasir ini, supaya kau muntahkan semua makananmu,” ujarnya.

Lalu dikunyahlah pasir itu.

“Aku sungguh ingin buang air besar,” rintih bocah bodoh. Dengan susah payah, seperti gelandangan mabuk, ia ke pojok gang dan buang air besar.

Setelah beres ia berkata, “Kotoranku berdarah.” Matanya merah. Ia hendak menangis ketakutan.

Sahabatnya panik. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Bocah pintar kebingungan. Seketika itu juga bocah bodoh roboh. Mereka berdua menangis berpelukan.

“Aku takut menjadi patung seperti ayah yang sudah mati,” ujar bocah bodoh dengan mulut berlumuran muntahan pasir.

“Engkau tidak akan menjadi patung, sahabatku,” ujar bocah pintar menghibur. Ia juga menangis.

Hari sudah sore dan langit kota seperti mengamuk membawa hukuman bagi bocah-bocah nakal dengan awan hitamnya. Dan rintik hujan jatuh. Rasakan itu bocah sialan!

Mereka berdua lama menangis dan berpelukan hingga hujan menjadi lebat. Kota terlalu jahat untuk dua gumpalan daging polos tak berdosa.

Mereka terus menangis dan menangis. Dan suara tangisan mereka kalah oleh hujan.

Bocah bodoh akhirnya mati. Muka biru sahabatnya basah oleh air hujan dan air mata.

“Jangan pergi… Ayo kita merokok.”

Iklan

2 thoughts on “Dua Bocah Sialan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s