Aku Perempuan, Kau Bisa Memukulku

Aku Perempuan, Kau Bisa Memukulku (Karya Bima Satria Putra)
Aku Perempuan, Kau Bisa Memukulku (Karya Bima Satria Putra)

Saat jam istirahat, beberapa petinggi serikat pekerja perempuan di sebuah pabrik tekstil sedang membagikan selebaran. “Kapitalisme dan patriarki memperkosamu, berkelahilah seperti perempuan!” begitu tulisnya. Seorang pekerja perempuan cantik membacanya. Lalu dibuangnya. Ia tidak peduli.

Ia hendak pergi jauh-jauh dari pekerja lain, ke bawah pohon tempat ia biasa menghabiskan makan siang. Dari jauh terlihat seorang pengawas pekerja membaui udara dengan hidungnya. Mengendus-endus parfum pekerja perempuan cantik itu. Ia sangat hapal dengan wanginya.

“Andai aku bisa menendang biji pelirnya,” harap pekerja perempuan.

Suatu ketika ia pernah berpikiran untuk tidak menyemprotkan parfum saat hendak berangkat kerja. Tapi suaminya melarang. “Kamu menjadi dirimu karena parfummu,” ujar suaminya. Ia hendak menghindar saat suaminya mencium kening, tapi ia terpaksa tunduk dicium oleh bibir menjijikan seorang pemabuk pasar.

“Tapi parfum ini harganya mahal dan tidak bisa dimakan,” ujar pekerja perempuan. Tapi suaminya malah marah-marah. Ia tidak peduli apakah hari ini bisa makan atau tidak. Ia hanya peduli soal wewangian istrinya, lalu bercinta sebelum berangkat kerja. Karena suami bercinta dengan kasar, perempuan ini harus berangkat ke pabrik dengan selangkangan yang perih.

Dan pengawas yang menyukainya itu hanya memperburuk suasana. Pengawas sering mencium rambutnya yang wangi dari belakang dan rasanya perempuan ini hendak mewujudkan harapannya. Tapi ia takut dipecat.

Sialnya, siang ini pengawas itu datang lagi. “Aku minta maaf tadi malam telah membuatmu takut,” ujarnya.

Tadi malam, pekerja perempuan ini pulang dari pabrik. Di stasiun kereta, ia berpapasan dengan pengawas sialan itu. “Hei.. nona,” panggil pengawas. Ia berdiri dan mendatangi perempuan tersebut.

“Pergi dariku!” hardiknya. Ia terdiam dan perempuan tersebut buru-buru pergi. Hampir saja ia terpeleset karena keburuannya. Bukan, sebenarnya karena sol sepatunya buruk.

Tapi ia heran, kenapa pengawas tidak mengejarnya? Bukankah baginya, ini seperti kesempatan yang mana pemburu sudah mengarahkan busur panahnya ke rusa cantik di hutan? Ia menoleh ke belakang, dan melihat pengawas duduk sambil menangis. Tapi ia tidak peduli. Ia harus pulang. Jika tidak suaminya akan memukulnya.

“Aku tidak takut.”

“Lalu kenapa kamu membentakku dan lari?”

“Karena aku membencimu. Tidak, aku membenci semua lelaki.”

“Kenapa?”

“Karena mereka semua menginginkan perempuan sebagai pemuas nafsu saja. Tidak lain.”

“Itu salah satunya saja. Tapi, aku mencintaimu.”

“Kamu sudah menikah, Pak! Kenapa tidak kamu goda saja istrimu?” ujar perempuan itu agak nyaring. Lalu menangis. Puluhan pekerja lain menoleh. Beberapa menggelengkan kepala.

“Mengapa kamu menangis?”

“Aku tidak mengangis,” ujarnya sambil menyeka air mata.

“Aku minta maaf telah membuatmu ketakutan dan menangis.”

“Kamu tidak membuatku menangis!” perempuan itu bangkit dan hendak memukul si pengawas. Tapi meleset.

“Jika kau cinta aku, biarkan aku menampar mukamu,” ujar perempuan itu.

Pengawas diam. Lalu membiarkan mukanya di tampar. Pipi kiri dan kanan. Juga sekali tonjokan di hidung dan langsung berdarah.

“Kenapa? Mau membalas?”

“Tidak,” jawab pengawas.

“Kenapa? Karena aku perempuan? Aku bisa memukulmu, dan seharusnya kamu juga bisa memukulku.”

“Tidak akan.”

“Kau pikir aku lemah? Kau bisa membalasku! Ayo!”

“Sungguh?”

“Silahkan, pukul saja,” ujar perempuan itu geram.

Pengawas memukul wajah perempuan itu tepat di pelipis mata kiri. Perempuan itu terjatuh. Ia kaget dan tidak menyangka bakal dipukul sungguhan. Pandangannya langsung buram.

“Aku tidak akan meminta maaf. Selain karena aku bosan meminta maaf, engkau yang memintaku memukulmu.”

“Kenapa engkau memukulku?”

“Karena kamu menyuruhku.”

“Kenapa kamu bodoh?”

“Kalau aku memukulmu, aku dianggap lemah karena menyakiti perempuan. Namun kalau aku tidak memukulmu, justru aku dianggap lemah karena meremehkan dirimu yang perempuan. Aku serba salah? Apakah aku harus memukulmu atau tidak, walau kau perempuan?”

“Ya aku tidak lemah!” Perempuan itu bangkit dan hendak menampar wajah pengawas. Meleset. Lalu menjambak rambutnya, namun tanggannya dipelintir. Dan saat itu juga ia menerima dua kali tamparan dari pengawas.

“Bagaimana? Kita setara? Aku tidak bermaksud meremehkanmu,” ujar pengawas.

Ia menampar pengawas. Meleset. Menampar lagi. Meleset lagi. Muka perempuan pekerja merah. “Baiklah aku kalah,” dan pengawas tersenyum.

Saat lengah, pekerja perempuan menendang selangkangannya. “Terima itu,” ujar pekerja perempuan. Pengawas tersungkur.

Pekerja perempuan tangguh itu duduk dengan nafas ngos-ngosan. Ia melanjutkan makan siangnya dengan sangat-sangat lahap sambil melotot. Membiarkan pengawas terkapar lama sekali. “Apakah kau akan memecatku?” ujarnya.

“Aku tidak mungkin memecatmu,” ujar pengawas, memegang burungnya yang kesakitan. Ia berguling-guling.

“Ya, karena kamu menyukaiku.”

“Tidak juga. Karena kamu rajin.”

“Aku tidak rajin. Aku terpaksa rajin, jika tidak aku makan apa?”

“Aku bisa mentraktirmu makan?” tawar pengawas.

Pekerja perempuan ini hanya melanjutkan pekerjaan. “Aku bisa makan di rumah.”

“Apa makanan yang kamu masak di rumah? Aku bisa memasak.”

“Kamu kira aku peduli? Apa yang hebat dari laki-laki yang memasak?”

“Tidak, tapi aku akan menghajarmu,” pengawas masih memegang pelirnya, lalu duduk di sebelah pekerja perempuan cantik.

“Tidak, kita berkelahi. Dan kita sekarang setara,” ujar perempuan ini.

Ia lepaskan ikat rambutnya dan membiarkannya terurai. Terlihat sangat cantik. Ia lalu bersandar di dada pengawas yang bidang, masih mengunyah makan siangnya.

“Kau berani berkelahi denganku, apakah engkau anggota serikat pekerja?” ujar pengawas.

“Tidak. Apakah anggota serikat pekerja pandai berkelahi?”

“Mereka tampak tangguh dan tendanganmu seperti hendak menghancurkan para liberal. Kenapa tidak bergabung?” ujar pengawas.

“Mereka ingin memenuhi kuota perwakilan perempuan di dewan kota untuk meningkatkan bayaran pekerja. Itu tidak akan berhasil. Mereka selalu berpenampilan dan bersikap layaknya borjuis jika mendapatkan kursi di dewan,” jawabnya.

“Lalu bagaimana caramu memperjuangkan bayaran yang layak?”

“Entahlah. Bayaran layak adalah target minimum. Kita harus menguasai pabrik.”

Pengawas terdiam dan tersenyum ringan. Meremehkan.

“Siapa namamu? Sarah Kalasparov? Ucapanmu sudah seperti pekerja perempuan Sovyet.” Mereka tertawa.

“Dulu aku sering melacur.”

“Beberapa pelacur terkena penyakit kelamin. Aku pernah bertemu pengamen di stasiun yang ibunya mati karena itu.”

“Ya, dan petinggi agama di kota menyebutnya sebagai azab. Aku ingin melihat wajah mereka jika mengetahui bahwa beberapa pastur pernah menyewaku.”

“Seperti neraka Sodom dan Gomorah?”

“Ayolah, kehidupan ini seperti neraka. Kita tidak perlu takut dengan apa yang kita alami sesudah kematian,” ujar pekerja perempuan.

“Lagi pula, berserikat tidak membuatku kaya. Menjadi pekerja perempuan miskin yang cantik itu sial. Dia harus mencari pria dengan biji pelir terbuat dari emas,” lanjutnya.

“Kau miskin, dan kau merasa cantik?” tanya pengawas.

“Entahlah, kenapa kau menyukaiku?”

“Karena kau cantik. Apakah menurutmu aku tampan?”

“Lumayan.”

“Kalau begitu, menjadi pekerja laki-laki miskin yang tampan itu kutukan. Sebab aku harus mengganti biji pelirku dengan emas untuk mendapatkan pekerja perempuan miskin yang cantik,” canda pengawas. Mereka tertawa lagi.

“Apakah kau ingin menjadi kaya?” tanya pengawas.

“Tidak, aku menginginkan kebahagiaan. Kaya berarti bahagia,” jawab pekerja perempuan.

“Tapi kenapa direktur tampak tidak pernah bahagia bahkan walau mengenakan cincin permata?”

“Memang, kaya tidak selalu menjamin kebahagiaan. Namun apa enaknya memakan roti yang bahkan anjing pun akan mati keracunan jika memakannya?”

“Suamimu itu, itukah makanan yang diberikannya? Terbuat dari apa biji pelir suamimu?” tanya pengawas.

“Dari batu sungai. Terbuat dari apa biji pelirmu?” pekerja perempuan bertanya balik.

“Seperti besi dari jembatan tua yang berkarat. Dan sekarang rusak karena tendangan seorang proletar,” jawab pengawas. Lagi-lagi mereka tertawa dan bertatapan lama. Lalu berciuman.

Saat itu juga mereka merasa muda, lajang dan merdeka. Inikah rasanya revolusi?

Iklan

Diterbitkan oleh

bimasatriaputra

Bima Satria Putra. Kelahiran Besarang, Kalimantan Tengah, 4 November 1994. Mahasiswa program studi ilmu Komunikasi jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Sosial & Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana. Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Lentera dan Federasi Mahasiswa Libertarian Salatiga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s