Anarkisme : Idealis atau Materialis?

Baca normal : 17 menit

Sudah sejak lama aku memutuskan diri menjadi materialis. Aku percaya bahwa kenyataan yang sungguh nyata adalah materi, sedangkan kesadaran atau pikiran kita hanyalah gejala sekunder dari proses material belaka. Pikiran dan jiwa misalnya, tidak memiliki status ontologis apapun. Pikiran dan jiwa tidak aku pahami keberadaannya secara riil, mengingat ia berasal dari kerja otak, serta apapun yang menopangnya, baik detak jantung, pembuluh darah, dan tulang belakang. Secara epistemologis, aku percaya bahwa pengalaman yang kongkrit hanya berasal dari hasil observasi indrawi, dan karenanya segala tindakan apapun yang aku lakukan, haruslah berdasarkan pertimbangan faktor-faktor material tersebut. Tetapi bukan berarti aku harus menjadi seorang positifis murni, yang karena terlalu mengandalkan pengetahuan empiris, mengabaikan pertimbangan-pertimbangan yang ideal, dalam bentuknya yang jauh, yang abstrak, absurd dan irasional. Penyampingan terhadap hal-hal yang ideal berarti menutup kemungkinan akan sesuatu yang mustahil, sekecil apapun kemungkinan tersebut. Maksudnya, aku percaya dan yakin bahwa bumi itu bulat, karena observasi dan eksperimen soal ini sudah terlampau banyak memvalidasikannya, tanpa aku harus membacanya, atau terlebih lagi dengan harus terbang ke luar angkasa. Tetapi aku akan selalu siap untuk kaget hanya karena suatu kenyataan baru yang mungkin, kelak akan aku dapatkan, bahwa bumi itu ternyata datar. Aku bisa meyakini keduanya tanpa harus punya pengalaman inderawi sekalipun atasnya. Terlepas dari itu, aku materialis.

Karena itulah, selain karena beberapa alasan lain, aku memutuskan menjadi anarkis. Sejauh yang aku pahami, anarkisme, melampaui apapun, adalah salah satu pandangan politik paling materialistik yang pernah aku temui (disamping marxisme tentunya). Anarkisme tidak lahir dari ilham orang-orang yang tercerahkan untuk membebaskan dunia. Tidak, anarkisme tidak seperti itu. Anarkisme bukan semacam wahyu yang turun dari langit, ia berasal dari pengamatan, dari pengalaman yang faktual. Penekanannya tidak diletakan kepada yang psikologis dan spiritual. Sebaliknya, ia bersifat sosial, karena ia hendak mencanangkan perubahan keseluruhan terhadap kondisi material yang kongkrit. Baiklah, harus diakui bahwa ada beberapa proponen anarkisme yang mengambil titik tolaknya dari moralitas dan religiusitas, seperti anarkisme Kristen dan Islam, atau seperti beberapa sejarawan yang menemukan bahwa pada banyak sisi, Budhhisme dan Taoisme mengandung banyak unsur-unsur libertarian. Terlepas dari itu, penindasan ekonomi, khususnya politik, adalah hal-hal yang keberadaannya sangat nyata, dan kemungkinan untuk merubahnya dengan alternatif yang lebih manusiawi, telah berulangkali dibuktikan mempunyai sifat-sifat yang sangat-sangat rasional dan nyata pula.

Jadi, ada sedikit rasa kaget ketika mengalami beberapa marxis yang melabeli anarkisme dengan idealisme, dan sialnya, ini diamini pula oleh para anarkis sendiri. Tentu saja hal ini disebabkan karena mereka menggunakan pengertian idealisme dan materialisme secara ngawur. Dalam definisi yang populer ketimbang filosofis. Idealisme, dalam pengertian umum, kerap dikaitkan dengan praktik seseorang yang terus melakukan tindakan-tindakan demi tujuan apa yang ia anggap ideal, yang baik, dan indah. Sementara materialisme, kerap diartikan sebagai orang-orang yang mengutamakan pencapaian duniawi, harta dan kekayaan, yang sifatnya materialistik. Dalam pengertian populer seperti ini, tentu saja setiap anarkis dan marxis akan menjadi orang-orang yang idealis dengan sendirinya. Seperti ditulis Bakunin, “anda akan selalu menemukan kaum idealis dalam tindakan materialisme praktis, sementara anda juga akan menyaksikan kaum materialis yang mengejar dan merealisasikan cita-cita dan pemikiran yang paling ideal.”[1] Padahal bukan dalam ranah itu yang sedang kita diskusikan. Kita sedang mendiskusikan, secara filosofis, sebenarnya dimanakah anarkisme berpijak? Apakah yang dijadikan titik tolaknya, idealisme atau materialisme?

Materialisme dan idealisme adalah dualisme dari oposisi filsafat ontologis dengan titik tolak yang berbeda. Keduanya bertarung untuk menjawab pertanyaan metafisik yang mendasar mengenai apa itu kenyataan atau realitas, serta dari mana ia berasal. Namun materialisme sendiri, telah ditafsirkan dan diartikan secara berbeda dari zaman ke zaman, dari satu pemikir ke pemikir yang lain, dari satu kelompok ke kelompok yang lain, bahkan liberalisme klasik. Destutt de Tracy, sebagai seorang materialis, mengajarkan secara formal bahwa kemiskinan, kejahatan, dan perang adalah kondisi yang tak terelakkan dari suatu kondisi sosial. Tidak mau kalah, sosialisme sendiri telah melekatkan dirinya pada materialisme, semenjak istilah “sosialisme ilmiah” mencoba memisahkan dirinya dari “sosialisme utopis” yang kerap dicap idealis. Anarkisme dan marxisme, telah dikembangkan secara saintifik sebagai prasyarat filsafat politik dengan akar materialisme.

Tak dapat dibantah, marxisme berpijak kepada materialisme. Sebagai sesama Hegelian kiri, Karl Marx dan L.A. Feuerbach sama-sama tertarik dengan dielektika idealis Hegel. Namun tidak lama kemudian, Feuerbach menyerang balik pemikiran Hegel. Hegel menaruh dialektika dengan mengintikan realitas pada sesuatu yang ideal, apa yang oleh Hegel sebut sebagai “yang mutlak” (das Absolute). Feuerbach, sebaliknya, menyatakan bahwa gejala pokok realitas adalah alam. Ia membalikan Hegel agar berdiri di atas kakinya, atau menjadikan dasar realitas sekaligus manusia, tidak pada ide seperti dirumuskan oleh Hegel, melainkan alam, pada yang materiil.[2] Feuerbach menggunakan konsep materialismenya untuk menyerang religiusitas manusia yang diagungkan-agungkan dalam idealisme Hegel, seperti ia tulis dalam Das Wessen des Christentums (Hakikat Agama Kristen).

Marx, yang setuju dengan hal tersebut, sedikit banyak lalu mengambil pemikiran materialisme Feuerbach. Namun alih-alih menelannya secara mentah, ia mengembangkan kembali materialisme Feuerbach yang secara simplistik memiliki sifat materialis yang mekanis belaka. Karya awal paling mendasar soal materialisme Marx bisa kita baca dalam Theses on Feuerbach. “Titik tertinggi yang dicapai oleh materialisme kontemplatif, yaitu materialisme yang tidak memahami kepancainderaan sebagai aktifitas praktis, adalah renungan satu-satu individu dalam ‘masyarakat sipil’,” tulis Marx dalam tesisnya yang ke-IX tentang Feuerbach. Kontemplasi dalam artian Marx berarti semua tafsiran atas kenyataan materialis tersebut tidak menghasilkan perubahan apapun. Dalam rumusan positif, pandangan Marx tentang filsafat adalah bahwa filsafat harus mendorong praksis perubahan sosial, seperti dinyatakannya dalam tesis ke-XI : “Para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia, dengan berbagai cara; akan tetapi yang paling penting adalah mengubahnya.” Sederhananya, materialisme adalah materialis jika ia tidak hanya dipandang sebagai ajaran metafisis tentang materi sebagai kenyataan akhir belaka, melainkan lebih jauh sebagai kerja sosial atau aktivitas revolusioner yang menciptakan perubahan sosial.[3] Inilah pokok-pokok dasar dari basis pemikiran Marx atas apa yang nantinya ia terangkan dengan determinisme ekonomi, materialisme dialektis dan materialisme historis.

Sementara itu akan sulit bagi anarkisme, jika tidak secara spesifik, untuk melihatnya apakah secara filosofis didasarkan pada filsafat idealisme atau materialisme. Berbeda dengan kebanyakan “isme-isme” yang lain, ciri anti-dogmatik anarkisme menyaratkan penilaian kritis dan penolakan terhadap ketertundukan mutlak. Oleh karena itu, pemikir-pemikir anarkisme tidak dapat melahirkan bakuninisme, kropotkinisme atau proudhonisme. Sekalipun kita pernah mendengar seorang anarkis disebut sebagai seorang bakuninis, hal itu keluar dari mulut oponennya dalam bentuk yang peyoratif. Sebagaimana saya pernah disebut sebagai bookchinis oleh rekan anarkis saya sendiri -terlepas dari apakah ia menganggap saya sebagai rekan atau tidak, dan oh, dia tidak menganggap Bookchin sebagai anarkis, tetapi libertarian, bodoh sekali. Karena itu, untuk mencari akar filosofis dari anarkisme, kita perlu spesifik kepada salah satu variasi yang ada didalamnya. Anarkisme apa yang kita maksud? Pemikir anarkis mana yang kita maksud?

Anarkisme telah berkembang sejak lama. Usianya jauh lebih tua dari marxisme, jauh lebih tua bahkan sebelum istilah “anarkisme” itu sendiri dilahirkan. Harus diakui, anarkisme pra-masehi, bersifat idealis. Ia lahir dari pemikir-pemikir moralis Timur (khususnya Cina dan India), dari perenungan, kontemplatif. Alih-alih berangkat dari situasi riil, mereka berkebalikan dari anarkis materialistik dari periode moderen, yang menyadari perkembangan yang sepenuhnya, dari apa yang oleh Bakunin jelaskan mengenai bagaimana “gerakan ini sejalan dengan logika alami kita, dengan hukum-hukum pikiran kita yang khas, yang dibentuk dan dikembangkan dengan bantuan pengalaman-pengalaman kita, yang kemudian merefleksikan reproduksi mental berdasarkan kerja otak.”[4] Sifat-sifat anti-otoritarian dari ajaran-ajaran timur, bergerak dari yang tinggi menuju yang rendah, dari yang kompleks menuju yang sederhana. Mereka memulainya dengan asumsi-asumsi teologis, atau moral. Sederhananya, yang mengawang-awang, untuk menolak otoritas dan menyebarkan prinsip-prinsip egalitarian. Sekalipun mempunyai sikap revolusioner, pada akhirnya pemikiran macam ini toh tetap mengadaptasi institusi-institusi penindas, baik pada zamannya, maupun pada saat ini. Ia lebih bersifat pencapaian spritual, untuk perubahan personal ketimbang sosial. Untuk kebajikan ketimbang keadilan dan kebebasan praktis.

Setelah dua milenium, anarkisme yang mula-mula berbentuk idealis itu terlahir kembali ke tanah material, di Eropa. Beberapa varian anarkisme yang bercirikan idealisme muncul kembali (khususnya seperti dapat kita lihat pada anarko-naturisme), bahkan ia masih terus dikembangkan hingga saat ini. Namun anarkisme moderen bahkan tidak memiliki akar langsung dari anarkisme yang lahir di timur. Ia terpisah dan tidak memiliki hubungan apapun, serta signifikansinya jauh lebih kecil ketimbang anarkisme materialisme secara keseluruhan. Di dunia moderen, anarkisme pertama kali muncul sebagai gerakan kaum tani dan para yeoman melawan lembaga feodal yang melemah. Di Jerman, juru bicara utamanya selama Perang Petani adalah Thomas Muenzer; sementara di Inggris, Gerrard Winstanley, tokoh terkemuka dalam gerakan Digger. Konsep yang dipegang oleh Muenzer dan Winstanley sangat selaras dengan kebutuhan zaman mereka, yaitu suatu periode historis ketika sebagian besar penduduk tinggal di pedesaan dan ketika kekuatan revolusioner paling militan berasal dari dunia agraris. Yang sangat penting adalah bahwa mereka berbicara dari zaman mereka; konsep anarkis mereka diikuti secara alami dari masyarakat pedesaan yang melengkapi barisan tentara petani di Jerman dan Inggris. Masyarakat yang terdesentralisir dan otonom, kepemilikan lahan bersama, pengambilan keputusan yang demokratis, penolakan terhadap Kerajaan dan Gereja. Ya, bagaimanapun juga, mereka kalah. (Lebih lanjut soal perkembangan konteks historis anarkisme, baca esai Ecology and Revolutionary Thought karya Murray Bookchin. Penjelasan historis di bawah ini didasarkan dari esai tersebut.)

Pada masa-masa menjelang Revolusi Industri, kota-kota berkembang pesat. Pembagian kerja secara regional mulai dikenal, kota-kota untuk industri (khususnya kerajinan), perdagangan dan pusat pemerintahaan. Sementara desa-desa dengan fokus pertanian. Kali ini, anarkisme menyesuikan dengan kondisi materiilnya, melalui pemikiran Proudhon. Anarkisme mengubah dirinya dari yang sebelumnya agraris, menjadi borjuis urban. Tidak heran, Proudhon hanya mewakili kondisi historis dari ketidakpuasan dan pemberontakan orang-orang disekitarnya: pemilik toko kecil, pedagang kecil, pengrajin, pekerja keliling, buruh, gelandangan, dan rakyat miskin kota. Proudhon adalah salah satu pemikir anarkisme klasik awal, yang secara filosofis menggunakan pendekatan materialisme. Ia menyatakan bahwa yang ideal hanyalah bunga, yang akarnya terletak dalam syarat eksistensial sebuah materi. Berdasarkan kondisi historis pada zamannya, ia mengajukan suatu hubungan perdagangan yang kooperatif, bank rakyat, pinjaman dan modal. Ia sama sekali tidak memiliki sifat proletariat, karena pada zamannya, kapitalisme memang dalam masa-masa hendak dilahirkan, masih belum sempurna (hal yang mana kerap dilewatkan oleh para pengkritik anarkis karena menganggapnya memiliki akar-akar borjuis). Namun sebelum perjuangan pada periode Bakunin dan Marx, Proudhon sudah mewanti-wanti, bahwa pertempuran selanjutnya akan berasal dari tempat karja.

Borjuasi yang berlandaskan liberalisme menang. Industrialisasi semakin pesat, pemimpin agama dan raja-raja dipenggal kepalanya. Di satu sisi, pemiskinan semakin akut dan akumulasi modal justru terjadi pada semakin sedikit, kepada semakin segelintir orang. Inilah zaman proletar. Anarkis-komunisme, bersamaan dengan munculnya komunisme-marxis, lahir dengan watak revolusioner proletariat, ia terwakili paling tidak oleh dua orang pemikir utama: Peter Kropotkin dan Bakunin. Kropotkin menjelaskan bahwa anarkis-komunisme berangkat dari filsafat materialis kontemporer, namun ia tidak menulis barang sepatah katapun tentang penjelasan apa yang ia maksud dengan anarkisme dengan filsafat materialisme kontemporer itu. Dan ini jadi kesempatan baik bagi Bapak Marxisme Rusia, Georgi Plekhanov, dalam bukunya Anarchism or Socialism –yang di Indonesia diterbitkan dan kerap dijadikan rujukan untuk mengkritik anarkisme (yang anehnya mereka rasa tidak penting untuk dikritik), untuk menghajar Kropotkin (dan anarkisme secara keseluruhan).

Untuk melihat akar materialisme yang lebih serius, kita dapat merujuk kepada salah satu pemikir anarkisme klasik pada zaman yang sama, Bakunin. Ia kerap disebut sebagai anarkis saintifik yang mengadopsi materialisme ekonomi Marx dan atheisme Feuerbach sebagai perkakas yang ia gunakan untuk menyerang aturan sains sembari merayakan kearifan insting. Ia menempatkan akal sehat sebagai kunci bagi kemajuan kemanusiaan seraya memuja spontanitas dan mengagungkan kehendak.[5] Seperti diketahui dari buku hariannya, salah satu naskahnya yang terkenal, God and the State, ditulis oleh Bakunin pada Februari hingga Maret 1871, pada malam-malam Komune Paris. Dalam bagian pertama naskah tersebut, Bakunin tanpa basa-basi langsung menyetujui Proudhon. Ia menyatakan bahwa yang benar adalah kaum materialis dan sebaliknya yang salah adalah kaum idealis. “Fakta-fakta mendahului ide dan gagasan… seluruh sejarah umat manusia, baik yang bersifat intelektual dan moral, politis dan sosial, hanyalah refleksi dari sejarah ekonomi,” tulisnya menyiratkan pengaruh kecenderungan ekonomi deterministik ala Das Kapital, yang terbit empat tahun sebelumnya.[6]

Sekolah materialistik, tulis Bakunin, titik tolaknya bersifat material dan negasinya adalah yang bersifat ideal. Ia dimulai dari totalitas dunia nyata atau dari apa yang secara abstrak disebut sebagai materi, yang kemudian sampai pada idealisasi yang riil, yaitu humanisasi pada pembebasan yang paripurna atas masyarakat. Sebaliknya, sekolah idealistik berangkat dari landasan serta titik tolak yang idealistik, yang dalam perkembangannya, ia pasti sampai pada materialisasi masyarakat, pada organisasi despotisme brutal dan eksploitasi yang bengis dan hina, dalam bentuk Gereja dan Negara. Ia menerangkan bahwa kondisi esensial dari idealisme teoritis dan idealisme agama adalah pengorbanan terhadap logika dan nalar manusia, serta penolakan terhadap sains. Seseorang yang mempertahankan doktrin-doktrin idealisme akan menemukan dirinya dalam daftar kelompok penindas dan pemeras rakyat. Hal ini tidak lain dipengaruhi oleh motif moral yang sangat kuat, dari teori atau kepercayaan idealistik yang pada dasarnya penting bagi martabat moral dan kemuliaan manusia. Namun pada kenyataannya, justru di atas reruntuhan setiap kebebasan, ia menegakkan otoritas. Karena itu, materialisme akan menolak prinsip otoritas, karena menurutnya otoritas sebagai akibat konsekuensi logis dari sifat kebinatangan (animality). Dalam sistem idealistik, menurut Bakunin, ia tidak akan menjadi apa pun kecuali kegagalan dan kejatuhan yang terus-menerus.[7]

Jadi, anarkisme (dalam kasus ini saya merujuk khususnya pada pemikiran Bakunin) menjadikan materialisme sebagai titik tolaknya. Begitu pula marxisme. Harus diakui bahwa beberapa bentuk pemikiran tertentu yang terus berkembang dari anarkisme, memilih landasan idealisme. Namun secara keseluruhan, terlepas dari apakah ia gagal untuk menjelaskan ciri materialistiknya atau tidak, anarkisme mencengkram kuat tanah materialisme.

Jika diperhatikan, kita menemukan bahwa kedua tradisi kiri ini mencoba materialisme dengan hasil yang berbeda. Bakunin sampai pada penolakan terhadap otoritas sebagai bentuk realisasi kaum idealis. Sementara itu Marx tidak hanya menolak idealisme Hegel, tetapi menolak (sambil menerima) dan mengembangkan materialisme Feuerbach, sehingga sampai pada titik dimana ia menganggap bahwa materialisme tidaklah sebatas realitas inderawi, tetapi juga harus dipahami sebagai subyek dalam aktivitas praktis yang punya sifat deterministik. Atau lebih lanjut, basis realitas materialnya, yaitu ekonomi, atau cara-cara produksi barang material dalam kegiatan kerja. Sekalipun marxisme dan anarkisme bersifat materialistik, keduanya menghasilkan titik akhir yang relatif berbeda. Mengapa?

Keduanya adalah bukti bagaimana materialisme diperuntukan sesuai kepentingannya. Anarkisme, sejak awal, menekankan dirinya pada kebebasan politik dan kemerdekaan individual, kritik terhadap otoritas. Sederhananya, mempermasalahkan hirarki. Bagi anarkisme, walau praktik ekonominya bisa pada sosialisme atau kapitalisme (namun saya sedang membahas spektrum kiri dari anarkis), axis ekonomi hanyalah penyokong utama untuk kebebasan. Artinya, ideal anarkisme untuk kebebasan dan egalitarianisme individual atas politik tidak mungkin bisa tercipta tanpa beriring dengan kesejahteraan ekonomi secara kolektif. Walau demikian, orientasi utama anarkisme adalah politik di atas ekonomi, ekonomi adalah axis komplementer. “Kami menolak semua legislasi, semua otoritas dan semua pengaruh yang diberi hak istimewa, diberi lisensi dan resmi, dan legal, meskipun berasal dari hak pilih universal, karena kami yakin bahwa pada gilirannya ia akan memberi keuntungan pada minoritas yang dominan untuk mengeksploitasi kepentingan-kepentingan mayoritas rakyat agar tunduk dan pada pada (kepentingan) mereka. Inilah maknanya kami semua benar-benar kaum Anarkis,” terang Bakunin.[8]

Sementara itu, marxisme berorientasi pada kesejahteraan sosial dan ekonomi, kepemilikan alat-alat produksi, yaitu pada kelas. Karena berorientasi pada kemerdekaan ekonomi, axis politiknya bersifat komplementer. Marx berusaha keras sekali untuk menghasilkan karya mengagumkan soal sistem kerja kapitalisme, hal yang mana tidak dilakukan oleh anarkis, karena memang bukan itu yang ditekankan. “Dalam semua gerakan ini mereka mengangkat masalah kepemilikan –betapapun masalah ini telah mengambil bentuk yang kurang atau lebih berkembang- sebagai masalah pokok dalam gerakan,” tulis Marx & Engels, menyiratkan kecenderungan ini.[9] Marxisme yang kemudian dikembangkan oleh pengikutnya, Lenin dan khususnya Stalin, bisa dipandang pula sebagai bentuk yang jauh lebih otoritarian. Sederhananya, pengenyampingan terhadap axis politik yang libertarian untuk orientasi ekonomi mereka sebagai yang paling utama, bahkan dengan melibas gerakan kiri anti-otoritarian yang dicap kontra-revolusioner sekalipun.

Dalam peta pemikiran politik, kedua orientasi ini kerap kali tumpang tindih, bersaling silang, atau lebih berat sebelah, namun tidak bisa dipisahkan. Politik (hirarki) dan ekonomi (kelas) menjadi dua aspek berbeda yang tidak dapat disangkal. Jadi, untuk membandingkan dan memperdebatkan manakah yang benar dari materialisme Bakunin dan materialisme Marx, bisa jadi debat kusir yang bodoh. Sebab mereka mempergunakan materialisme untuk tujuan yang berbeda, tema yang berbeda, orientasi yang berbeda, yang mana saya maksud, Bakunin untuk materialisme politik dan Marx untuk materialisme ekonomi. Salah satu yang sama dari Bakunin dan Marx adalah bahwa keduanya sama-sama kaum materialis. Kesamaan lainnya adalah bahwa materialisme mereka gunakan untuk kepentingan revolusioner, tidak sekedar penafsiran semata atas realitas. Marxisme adalah materialisme, dan anarkisme, juga, adalah materialisme.

Tak syak lagi, label idealisme terhadap anarkisme adalah bentuk ketidaktahuan dan cacat pikir.

Kata “materialisme” dalam filsafat Marx, serta kata “ilmiah” dalam pemikirannya tentang sosialisme, telah menjadi semacam legitimasi yang sangat determinan bagi marxis, bahwa segala pemikiran lain di luar tradisi marxian macam tidak “tidak materialistik” dan “tidak ilmiah”. Dalam periode saintifik, seperti saat ini, kita berada dalam suasana ketika semua hal yang dianggap berangkat dari kenyataan material dianggap sebagai kebenaran. Karenanya, akan menjadi sangat penting untuk merebut materialisme sebagai klaim pembenaran akan “kebenaran”. Retorika sombong ini terus menerus direproduksi sebagai bagian dari indoktrinasi kader-kader partai atau organisasi marxis. Sederhananya, seperti dengan pongah mengatakan bahwa “kami jauh lebih materialis ketimbang anarkis,” hanya karena Marx menyeret dialektika yang bergerak dalam ranah idealisme Hegelian ke ranah materialisme. Atau jika boleh lebih jujur, berkata bahwa “kami jauh lebih materialis karena Marx memiliki teori dengan nama materialisme dialektis.”

Apakah keduanya bisa bersifat saling melengkapi? Jawabannya ya, jika materialisme ekonomi Marx bisa melengkapi anarkisme. Tapi tidak, jika mengharapkan materialisme politik Bakunin untuk melengkapi marxisme. Sebab, berbeda dengan anarkisme, marxisme melengkapi axisnya baik secara politik dan ekonomi. Mereka sudah memutuskan cara dan metode politik yang berbeda mengenai bagaimana membawa perubahan sosial, seperti yang dirumuskan sendiri oleh Marx, “proletariat akan menggunakan kekuasaan politiknya untuk selangkah demi selangkah merebut semua kapital dari borjuasi, memusatkan semua perkakas produksi ke dalam tangan negara, yaitu proletariat yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa.”[10] Jika marxis menggunakan materialisme politik Bakunin, maka ia sudah tidak dapat diidentifikasikan sebagai marxis lagi, karena materialisme politik Bakunin adalah penolakan terhadap otoritas. Sebaliknya, anarkis sudah memberikan penekanan terhadap metode aksi langsung, ekstra-parlementer dan pengorganisiran akar rumput. Namun di satu sisi, bisa menyerap banyak analisis marxian untuk tujuan mereka sendiri, tanpa menyelewang dari jalur yang mereka kehendaki tersebut.

Sekalipun demikian, seperti telah banyak diulas oleh banyak literatur, keduanya sepakat untuk dihapuskannya negara sebagai tujuan akhir komunisme. Seperti diterangkan Engels: “Masyarakat yang mengorganisir produksi secara baru pada dasar asosiasi bebas dan setara, para produsen akan menempatkan negara dan alat-alatnya ke tempatnya yang layak –museum artefak masa lampau, bersama dengan roda pemintal dan kapak tembaga.”[11] Artinya, marxisme memang tidak pernah secara serius atau terlalu mementingkan, untuk menekankan materialisme sehubungan dengan kekuasaan seperti telah Bakunin lakukan. Namun, marxisme pada akhirnya sejalan dengan materialisme politik Bakunin, bahkan tanpa harus menggunakannya.

Sialnya, konflik antara Marx dengan Bakunin tampak terlalu dibesar-besarkan. Medan arena konflik ini telah meluas dan keluar dari yang sebelumnya Marx dan Bakunin sendiri ributkan. Saya tidak bermaksud untuk mendamaikan keduanya, apalagi mengajukan persatuan kiri. Proses pencarian pengetahuan memang harus dimulai dari memperbesar perbedaan antara keduanya, memperkuat argumentasi masing-masing, lalu saling mengalahkan dengan debat dan pembuktian yang sehat. Bukan justru dengan mengubur jauh-jauh perdebatan tersebut dan mengaburkan perbedaannya. Pun, saya tidak akan sudi berkompromi dengan marxis, untuk membawa perubahan sosial ditegakkan di segelintir elit politik kiri atas nama negara kediktatoran proletariat. Hal yang justru ingin saya tekankan adalah, kiranya konflik ini tidak membutakan kita untuk mengakui, bahwa dalam banyak hal, analisis marxian terhadap kapitalisme terlampau canggih untuk tidak digunakan. Sekali lagi saya ulangi, Marx telah menghasilkan karya yang mengagumkan yang kontribusinya soal sirkulasi kapital dan ajaran tentang nilai lebih, atau sistem kerja kapitalisme secara keseluruhan, sangat mengagumkan. Produksi komoditas tentu mengalami kemajuan yang pesat, alienasi kelas pekerja hingga ukuran tertentu berkurang (alienasi tetap bertahan sepanjang kapitalisme eksis), dan wajah represif kapitalisme tersamarkan oleh topeng yang lebih humanis. Namun bagaimanapun juga, sistem kerja dan akumulasi modal kapitalisme hari ini, masih memiliki prinsip yang sama seperti coba dijabarkan oleh Marx lebih dari 150 tahun yang lalu. Artinya, teori-teori Marx tetap relevan untuk digunakan selama sistem yang coba kita rebahkan saat ini masih bertahan.

Serangkaian peristiwa besar saling jegal antar keduanya, dari satu revolusi ke revolusi yang lain selama hampir satu abad perjuangan kelompok kiri, benar-benar telah memutuskan hubungan teoritik anarkis pada analisis marxian: menjadi anarkis berarti juga harus menolak pula keseluruhan analisis marxian. Ini diamini sendiri tidak hanya oleh anarkis, tetapi juga oleh marxis. Adalah fakta bahwa Bakunin sendiri membawa analisis marxian untuk pemikiran anarkismenya. Pun, hal ini menjelaskan mengapa beberapa anarkis lebih memilih menyebut dirinya sebagai marxis libertarian dan marxis otonomis untuk membedakan dirinya dari marxis ortodoks. Artinya, mereka masih mempertahankan semua atau sebagian dari teori-teori Marx tanpa harus mengikuti anjuran program politiknya. Mereka adalah marxis secara teoritik, bukan metodik. Konflik antara Marx dan Bakunin tidak benar-benar terjadi di aras yang abstrak, ia murni bersifat taktik dan strategi. Artinya, tidak perlu menjadi marxis untuk menggunakan sebagian atau seluruh pemikiran marx dalam perjuangan anarkisme. Akan menjadi sangat bodoh untuk meninggalkan pemikiran Marx, hanya karena dirinya mendaku anarkis, seperti sama bodohnya dengan marxis yang melarang anarkis menggunakan sebagian dari pemikiran Marx. Rada ironis, tapi hal ini benar-benar terjadi.

Lebih lanjut, label idealisme pada anarkisme juga diperburuk karena kecenderungan yang ugal-ugalan dari sikap anti-intelektual para anarkis sendiri. Pembangkangan terhadap kemapanan (anti-estabilishment) seringkali diarahkan secara sembrono kepada otoritas – kerja – ilmu pengetahuan, hanya dalam satu tarikan nafas. Kita bisa dengan mudah melihat bahwa anarkis pada saat ini, terlepas dari ketiadaan literatur anarkisme, maupun niat dari anarkis itu sendiri, terlalu menyepelekan peran penting pendidikan dan ilmu pengetahuan. “…yang saya sebarkan hingga batasan tertentu adalah pemberontakan kehidupan melawan sains, atau kekuasaan sains, bukan untuk menghancurkan sains, tetapi untuk menjaga sains agar tetap di tempatnya dan tidak pernah meninggalkan tempat itu lagi,” tulis Bakunin.[12] Ia berseru demikian bukan karena ia menolak ilmu pengetahuan, melainkan karena ia sepakat kepada Wagner, bahwa satu-satunya misi sains adalah mencerahkan kehidupan, bukan untuk mengaturnya. Artinya, secara harafiah ilmu pengetahuan sema sekali tidak bisa langsung menjajah manusia, tapi otoritas, dengan legitimasi ilmu pengetahuan sekalipun, bisa terjerembab dalam bentuknya yang sadis, kotor dan suram. Setiap ilmu pengetahuan sangat berguna (dalam konteks tertentu, mempertimbangkan relevansi dan pembaharuannya), tetapi yang menjadi permasalahannya adalah, siapa yang menggunakannya? Otoritas sekalipun harus dihancurkan, bahkan walau mereka adalah pemerintahan para ilmuwan, termasuk ilmuwan marxis.

Namun jika kecenderungan anti-intelektual ini tidak disingkirkan, ia menyerah dan menganggap, bahwa anarkisme adalah gerakan yang terlahir seperti sebuah wahyu turun dari nirwana dengan pesan-pesan pembebasan yang idealis, abstrak, non-ilmiah. Gerakan anarkisme akan berujung kepada ketidaktahuan, ketidakpedulian, kebodohan, mengarah pada lirik-lirik sarkas Sex Pistols yang amuk-amukan. Oh, aku tidak maksud untuk menganjurkan membaca semua karya-karya tokoh anarkis untuk menjadi anarkis (sekalipun ini baik) dan melarang mendengarkan musik punk. Bukan pula maksud saya untuk berlagak cerdas. Terkadang, seseorang memang tidak perlu membuang waktunya dengan susah payah membaca Das Kapital, hanya untuk menyadari bahwa sistem saat ini dibentuk dari penindasan dan pemerasan. Tapi akan menjadi sangat menyedihkan pula untuk mengenyampingkan transfer pengetahuan yang serius dalam tindakan perlawanan. Lalu ketika marxis mencap mereka dengan mudahnya sebagai seorang idealis dalam pengertian sebagai seseorang berjiwa mulia karena menjunjung tinggi solidaritas, kebebasan dan persamaan, tetapi didasarkan pada omong kosong, anarkis tidak bisa mempertahankan argumentasi materialistiknya sendiri. Mereka bahkan mengganggukan kepalanya seolah-olah menyetujui anarkisme dibangun atas dasar-dasar reruntuhan filsafat idealisme zaman pencerahan!

Tidak hanya anarkis pada saat ini, marxis sendiri banyak tidak tahu bahwa apa yang mereka maksud dengan anarkisme tidak sesederhana simbol lingkar A yang dijahit pada jaket jeans kusam. Karena kepongahannya, banyak marxis yang tergelincir untuk mengecap anarkisme sebagai “ideologi tanpa teori.” Banyak marxis yang tidak tahu bahwa anarkisme paling tidak sejak 200 tahun belakangan ini, menjadi sebuah kekuatan ilmu pengetahuan dalam lajur akademik yang serius, yang landasan teoritiknya dibangun dari pengamatan dan pengalaman empirik, yang secara ilmiah telah dianalisis dengan baik, sehubungan dengan seberapa merusaknya otoritas terhadap kehidupan individual dan sosial, juga memvalidasi tentang betapa memungkinkannya manusia mengorganisir diri dalam lembaga-lembaga egalitarian yang kooperatif dan terdesentralisir. Merasa superior secara intelektual, marxis telah buta sedari awal. Menegasikan produksi ilmu pengetahuan yang telah anarkisme bangun berarti menegasikan pula cita-cita jangka panjang dan akhir dari marxisme, yaitu suatu kondisi, seperti dijelaskan oleh Marx, ketika “kekuasaan umum akan kehilangan watak politiknya,” setelah “syarat-syarat produksi” dapat “menghapuskan syarat-syarat eksistensi bagi pertentangan-pertentangan kelas,” dan dengan demikian akan “menghapuskan kekuasaannya sendiri sebagai kelas.” Marx telah meramalkan tampilnya “suatu perserikatan di mana perkembangan bebas setiap orang menjadi syarat bagi perkembangan bebas semuanya,” hal yang mana lebih banyak dikaji oleh anarkis ketimbang oleh para marxis.[13] Tetapi mereka bahkan tidak menganggap serius mutual aid Kropotkin dan bioregionalisme Élisée Reclus, karena terlalu silau oleh kemegahan teoritik Marx. Marxis yang telah mengecap anarkisme dengan filsafat idealisme, tidak lain adalah hasil dari ketidaktahuan mereka sendiri, begitu pula dengan anarkis yang mengiyakannya.

Karena itu sudah menjadi tugas paling mendesak dari agenda anarkis saat ini, sembari tidak lupa untuk terus melakukan pengorganisiran dan perlawanan, sebagai langkah awal menuju pergerakan anarkis yang serius, adalah dengan memperhebat produksi pengetahuan dan wacana. Naskah-naskah harus semakin banyak diterjemahkan, dan pengetahuan-pengetahuan ini harus didiskusikan dan disebarkan. Dan terakhir, jika kamu seorang anarkis dan ada seseorang yang menyebutmu sebagai idealis, jangan lupa terangkan yang aku tulis: kita tetap menginjak tanah untuk menyeret surga jatuh ke bumi!

Catatan Kaki

[1] Bakunin, Mikhail. Tuhan dan Negara (Penerbit Parabel, 2017). Hlm 102. Walau demikian anarkisme sendiri semakin berkembang bahkan melampaui idealisme dan materialisme. Kita tidak boleh berhenti di titik tunggal cita-cita idealistik maupun pengamatan empiris semata. Mempertimbangkan bahwa manusia, sebagai sebuah makhluk hidup yang ber-evolusi, memungkinkan pilihan etis tentang apa dan bagaimana bentuk penciptaan struktur sosial yang lebih baik. Anarkisme, di atas yang lain, terlepas apakah selalu berkembang menyesuaikan kondisi materiilnya, akan tetap menghasilkan “dialektika yang menarik dalam proses bersejarah… Berkeliaran dengan bebas dan spontan di atas seluruh wilayah pengalaman, ia menghasilkan penglihatan yang menakjubkan, seringkali jauh melampaui batasan material saat itu,” tulis Bookchin, menyiratkan naturalisme, melampaui dualisme ontologi klasik. Saya akan membahas mengenai hal ini dalam tulisan yang lain.

[2] Ramly, Andi Muawiyah. Peta Pemikiran Karl Marx: Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis (LKiS, 2013). Hlm, 70-71.

[3] Marx, Karl. “Tesis tentang Feuerbach,” diakses dari marxist.org.

[4] Bakunin (2017), hlm 32.

[5] Marshall, Peter. Demanding The Impossible : A History of Anarchism (Harper Perennial, 2008). Hlm 263.

[6] Bakunin (2017), hlm, 23. Jilid pertama Das Kapital yang ditulis oleh Marx baru terbit pada 1867. Sementara naskah God and the States ditulis pada 1871, namun baru diterbitkan oleh Carlos Cafiero dan Éllisée Reclus pada 1882.

[7] Ibid, hal 99-101.

[8] Ibid (2017), hlm 76. Huruf miring bukan dari Bakunin.

[9] Marx, Karl & Friedrich Engels. Manifesto Partai Komunis (Penerbit Ultimus, 2015). Hlm 72. Huruf miring bukan dari Marx.

[10] Ibid, hlm 54.

[11] Engels, Friedrich. Origin of the Family, Private Property and the State (1884).

[12] Bakunin (2017), hlm 114 & 121.

[13] Marx (2015), hlm 55.

Iklan

2 tanggapan untuk “Anarkisme : Idealis atau Materialis?”

  1. Okay Bim, one hell of a thought. And thanks for still being so productive. Okay, sorry for my late reply, but i DO REALLY HOPE you spare your time to read some essays i recommend (and soon send) to you. It helps. xoxo

  2. Oh yess, and how about to spend some time to re-read On Feuerbach together with other comrades. Damn Pasal 11 yang selalu dicatut organ2 kiri dan nggak pernah berubah interpretasinya. Padahal….well whatever

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s