Hantu Blondo Celong

Di sini sekarang aku tinggal, di sekretariat Lentera. Sekarang lagi musim semi, dan bunga-bunga di sekretariat bermekaran, pohon-pohon juga berbunga, aku juga berbunga. Di seberang ruang rapat ada sepetak lahan kecil yang kami tanami cabai, tomat dan kol. Di seberang pagarnya ada rumpun bambu. Di samping lahan, ada pondok-pondok kecil yang tidak terpakai. Dulu, kami kerap minum es jeruk nipis sambil bergitar di sana. Di atas kantor Lentera ada sebuah pendopo luas khas Jawa, diskusi dan nonton film sering diadakan di situ. Di seberang sekretariat, persis di samping kanan jalan turun yang curam itu, ada hutan-hutan yang lebatnya meneduhkan hati. Dulu aku membayangkan punya rumah kecil di situ, ukurannya empat meter persegi, dan sahabatku juga punya rumah berukuran sama di sekelilingku. Kami mau membangun kampung anarkis dengan berbagai hal yang dimiliki secara kolektif, dan segala urusan kampung itu kami musyawarahkan bersama, lalu kami bercocok tanam. Sepanjang hari cuacanya sangat sejuk, apalagi sambil menyeduh teh hitam yang dibeli Andri di Medini, aku bisa menulis dengan lancar dan lupa waktu.

Tapi suasananya berbeda jika sudah malam. Bunga-bunga hilang warnanya ditelan gelap, jadi suram, kelam. Lahan di seberang ruang sekretariat tidak ada bedanya dengan kebun pinggir kampung, yang kalau warga mau lewat, harus permisi dulu. Pondok-pondok kecil terbuka jendelanya, kalau melirik sekilas, berseliweran bayang-bayang orang didalamnya. Hutan di pinggir jalan yang curam itu penuh kelelawar kala malam. Suhu menurun drastis, jadi jika menulis di meja rapat, aku selalu mengenakan jaket dan selimut. Menulis jadi tidak terlalu lancar, karena terkadang harus menoleh ke samping dan ke belakang. Gelisah macam orang yang lewat.

Dulu sekretariat dihuni oleh David dan Galih. Sekarang cuma aku sendiri. Sementara kantor atas dihuni Putri, hantu perempuan yang baik hati. Kalau aku tertidur, dia patroli di sekretariat. Jaga-jaga kalau ada maling. Karenanya jika ku tinggal beberapa barang penting di luar kantor, di sekitar meja rapat itu, aku tidak terlalu takut, Putri pasti jaga kok. Dia usil sama maling, makanya penjual ayam goreng di dekat Taman Tingkir yang dulu pernah menempati sekretariat bilang kalau tempat itu ‘aman tidak aman’.

Ketika dulu kami jarang ke sekretariat, kami sering menemukan kondom masih berbungkus dan kondom yang habis pakai di lahan. Kondom yang masih berbungkus kami cuci, lalu kami simpan, siapa tahu kelak digunakan. Sementara kondom bekas aku cuci juga, aku isi air dan aku putar-putar, lalu aku buang ke rumpun bambu di seberang pagar. Aku tidak tahu pasangan muda-mudi yang sedang birahi itu dikerjain oleh Putri atau tidak. Tapi aku percaya kalau Putri tidak sejahat itu, Putri juga masih muda, dan dia birahi padaku.

Namanya juga hantu, pasti usil, tinggal usilnya baik atau jahat. Kalau Putri usilnya baik, cuma karena emang dasarnya aku penakut, aku terkadang tidak berani ke toilet di kantor atas. Kalau pipis, bisa aku siram ke tanaman tomat dan cabai atau rumput-rumput di lahan. Kalau buang air besar juga, apalagi kalau sahabatku itu pada tidak mau mengantarkanku ke toilet, aku buang air di lahan. Pantat aku cuci di ember penampungan air hujan, ember yang sama yang aku gunakan untuk mencuci piring dan gelas yang dipakai oleh anggota Lentera yang tidak bertanggungjawab setelah minum teh dan kopi. Galih pernah mengeluh sakit perut, dalam hati aku bilang, “rasakan.”

Kalau maghrib, suasana seram mulai datang. Aku yang sering menyalakan lampu dapur, yang colokannya ada di dalam ruangan kantor atas. Kalau aku masuk, kayaknya Putri iseng berada dibelakangku, terkadang di atas lemari, atau sembunyi di bawah meja komputer. Tapi aku biasa aja.

Ketika menulis di malam hari, terkadang jendela pendopo terhentak oleh angin, bikin kaget. Terkadang terdengar langkah kaki berjalan atau berlari, ketika hendak pergi dan menyalakan motor, dua mata bersinar dari pendopo: mata kucing. Lebih seram lagi kalau ada benda jatuh dan bunyinya nyaring bergelundung, aku membayangkan kepala manusia. Pagi-pagi aku sapu pendopo, ternyata buah jambu biji. Mungkin dibawa kelelawar, mungkin Putri yang lempar. Kemudian pinggiran ruang kantor sekretariat itu bocor jika hujan, makanya aku tambal dengan lembaran plastik. Tapi anehnya, air hujan malah menetes dari tengah-tengah ruangan, aku curiga Putri yang menyiramnya dari pendopo.

Putri itu sebenarnya baik padaku, karena tampaknya hanya aku orang paling rajin yang pernah ia temui dalam mengurus sekretariat. Tapi dia sering cemburu jika aku mebawa Intan ke sekretariat. Intan pernah dikerjain waktu mencuci piring di dapur. Ketika Intan dan Andri pergi mengambil selimut untuk di bawa ke RSUD untuk Meilana yang sakit, Putri juga sengaja menebar bunga. “Kalian tanam apa aja to? Ada wangi-wangian menyengat,” kata Intan. Intan juga takut kalau ke toilet, makanya dia sering meminta untuk dikawal. Pernah ketika selesai pipis, Intan langsung menciumku, dan Putri memandang sinis dari kegelapan dapur. Bagaimanapun juga dia adalah hantu, dan aku tidak bisa menikahinya. Dia harus sadar itu.

Caraku menghilangkan rasa takut biasanya dengan memikirkan revolusi. Aku membayangkan bahwa sekretariat akan menjadi pusat pergerakan di masa depan. Massa mahasiswa dan pekerja berdiskusi strategi, berbagi sumber daya, poster-poster dan peralatan aksi membuat berantakan sekretariat, dan mereka tidur di sana layaknya ikan pindang terjejer seperti di pasar. Aku tidak tahu apakah Putri juga dieksploitasi, ada bos-bos hantu yang posisi lebih tinggi dari dia, memeras tenaga kerjanya dalam menjahili manusia. Kamu dukung revolusi kan, Put? Kamu akan melindungi mereka di kala kelompok reaksioner ultra-nasionalis menyerang sekretariat? Apakah di dunia kalian juga ada penindasan? Kalau tidak, enak sekali. Aku mau jadi hantu. Kalau aku mati terbunuh di barikade dan jadi hantu, mungkin kita bisa menikah, tidak ditindas kapitalisme pula. Kita bisa bersama-sama menjaga sekretariat, membantu revolusi manusia, menghantui para tiran!

Iklan

2 tanggapan untuk “Hantu Blondo Celong”

  1. bolehkah aku bermain kesana, dan menanyakan langsung kepada putri? apakah ada pemeras tenaga dia untuk mengusili manusia? dan aku ingin bermain kondom di isi air, dan di putar putar, sepertinya mengasikan putar putar bersama putri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.