Patriarki, Peradaban dan Asal-Usul Gender

oleh John Zerzan

Peradaban, pada dasarnya, merupakan sejarah dominasi terhadap alam dan perempuan. Patriarki berarti penguasaan terhadap perempuan dan alam. Apakah kedua institusi ini merupakan sebuah sinonim?

Filsafat telah mengabaikan bentangan penderitaan yang luas ketika jalannya yang panjang, dalam pembagian divisi kerja, perlahan-lahan mulai terbuka. Hélène Cixous menyebut sejarah filsafat sebagai suatu “rantai para ayah” (chains of fathers). Perempuan, sebagaimana halnya penderitaan, selalu absen dari hal tersebut, dan keduanya adalah saudara dekat. Continue reading “Patriarki, Peradaban dan Asal-Usul Gender”

Bagaimana Anak-anak Pemburu-Peramu Belajar?

oleh Peter Gray

Selama ratusan ribu tahun hingga kemudian pertanian ditemukan (sekitar 10.000 tahun yang lalu), kita semua adalah pemburu-peramu (hunter-gatherer). Naluri manusiawi kita, termasuk semua cara naluriah yang dengannya kita belajar, muncul dalam konteks cara hidup yang demikian. Jadi wajar jika kemudian kita bertanya-bertanya: Bagaimana anak-anak pemburu-peramu belajar apa yang perlu mereka ketahui untuk menjadi orang dewasa yang efektif dalam budaya mereka? Continue reading “Bagaimana Anak-anak Pemburu-Peramu Belajar?”

Saya Memilih Jalan yang Benar

Tulisan ini sebelumnya pernah terbit di Ingat65, pada 15 Februari 2017.

cr_5l8iuyaabfoc

Membaca buku Pengakuan Algojo 1965 hasil reportase Tempo, saya jadi mengetahui bahwa di Tengaran dan Beringin, sekitar Kota Salatiga, terjadi pembantaian terhadap anggota PKI dan mereka yang dituduh terlibat G30S. Saya melakukan riset pustaka lebih lanjut dan temuannya sama: terjadi penangkapan, eksekusi tanpa sidang, pemerkosaan, perampasan dan pembunuhan. Continue reading “Saya Memilih Jalan yang Benar”

Tetak Batok

Mite ini diadaptasi dan dikembangkan dari hasil penelitian antropologi Charles Hose dan William McDougall, dalam karya mereka “The Pagan Tribe of Borneo” (1912) terhadap suku Dayak di wilayah Kalimantan Utara (Borneo Inggris). Salah satu bagiannya membahas mitologi yang berkembang di sekitar Dayak Punan, Klemantan, Kayan dan Kenyah. Klik di sini untuk mengunduhnya.

Ini adalah kisah yang diturunkan dari nenek dan kakek kita. Mereka mendapatkannya dari nenek dan kakek mereka, dan nenek dan kakek mereka mendapatkannya dari nenek dan kakek mereka sebelumnya, dan begitu seterusnya. Kisah ini terus-menerus diturunkan langsung dari manusia-manusia pertama yang hidup. Dan kelak, ketika kalian dewasa, kalian harus menceritakannya kembali kepada anak cucu cicit kalian. Sehingga mereka dapat meneruskannya kepada anak cucu cicit mereka lagi. Demikianlah kita memetik kebajikan-kebajikan dari apa yang telah dikisahkan para leluhur. Jadi, dengarkan baik-baik. Ini adalah kisah mula terciptanya alam dan segala macam kehidupan serta tingkahnya. Continue reading “Tetak Batok”

Ketakutan Terbesarku

Aku menjadi tambah yakin sekarang, bahwa ketakutan terbesarku adalah opini publik. Aku sangat mudah ketakutan jika orang mengira bahwa aku bermaksud buruk, atau mereka memandang rendah diriku. Sejak dulu, membayangkan apa yang dipikirkan orang selalu membuatku panik. Aku selalu membuat asumsi-asumsi rumit dan melelahkan, yang pada akhirnya, hanya membuatku mengambil keputusan yang buruk. Continue reading “Ketakutan Terbesarku”

Aku Sangat Menderita

PERKEMBANGAN anarkisme di Indonesia pada zaman kolonial Hindia Belanda punya karakter unik, yang jika dibandingkan perbedaannya dengan periode setelah 1945 tergolong signifikan. Semuanya dipengaruhi oleh kondisi historis pada waktu itu. Antara perjuangan dengan kesadaran kelas, akumulasi rasa muak dan marah terhadap pemerintahan kolonial, penekanan untuk melakukan pemberontakan bersenjata, dan semakin munculnya wawasan kebangsaan, semuanya tumpang tindih menghasilkan bentuk sinkretik (atau apapun kita hendak menyebutnya) yang aneh. Hingga batasan tertentu, kita bisa melihat bahwa antara nasionalisme radikal dan anarkisme menjadi bias dan tidak terpisahkan karena tujuan-tujuan politik anti-kolonial. Continue reading “Aku Sangat Menderita”

Hantu Blondo Celong

Di sini sekarang aku tinggal, di sekretariat Lentera. Sekarang lagi musim semi, dan bunga-bunga di sekretariat bermekaran, pohon-pohon juga berbunga, aku juga berbunga. Di seberang ruang rapat ada sepetak lahan kecil yang kami tanami cabai, tomat dan kol. Di seberang pagarnya ada rumpun bambu. Di samping lahan, ada pondok-pondok kecil yang tidak terpakai. Dulu, kami kerap minum es jeruk nipis sambil bergitar di sana. Di atas kantor Lentera ada sebuah pendopo luas khas Jawa, diskusi dan nonton film sering diadakan di situ. Di seberang sekretariat, persis di samping kanan jalan turun yang curam itu, ada hutan-hutan yang lebatnya meneduhkan hati. Dulu aku membayangkan punya rumah kecil di situ, ukurannya empat meter persegi, dan sahabatku juga punya rumah berukuran sama di sekelilingku. Kami mau membangun kampung anarkis dengan berbagai hal yang dimiliki secara kolektif, dan segala urusan kampung itu kami musyawarahkan bersama, lalu kami bercocok tanam. Sepanjang hari cuacanya sangat sejuk, apalagi sambil menyeduh teh hitam yang dibeli Andri di Medini, aku bisa menulis dengan lancar dan lupa waktu. Continue reading “Hantu Blondo Celong”

Anarkisme : Idealis atau Materialis?

Baca normal : 17 menit

Sudah sejak lama aku memutuskan diri menjadi materialis. Aku percaya bahwa kenyataan yang sungguh nyata adalah materi, sedangkan kesadaran atau pikiran kita hanyalah gejala sekunder dari proses material belaka. Pikiran dan jiwa misalnya, tidak memiliki status ontologis apapun. Pikiran dan jiwa tidak aku pahami keberadaannya secara riil, mengingat ia berasal dari kerja otak, serta apapun yang menopangnya, baik detak jantung, pembuluh darah, dan tulang belakang. Secara epistemologis, aku percaya bahwa pengalaman yang kongkrit hanya berasal dari hasil observasi indrawi, dan karenanya segala tindakan apapun yang aku lakukan, haruslah berdasarkan pertimbangan faktor-faktor material tersebut. Tetapi bukan berarti aku harus menjadi seorang positifis murni, yang karena terlalu mengandalkan pengetahuan empiris, mengabaikan pertimbangan-pertimbangan yang ideal, dalam bentuknya yang jauh, yang abstrak, absurd dan irasional. Penyampingan terhadap hal-hal yang ideal berarti menutup kemungkinan akan sesuatu yang mustahil, sekecil apapun kemungkinan tersebut. Maksudnya, aku percaya dan yakin bahwa bumi itu bulat, karena observasi dan eksperimen soal ini sudah terlampau banyak memvalidasikannya, tanpa aku harus membacanya, atau terlebih lagi dengan harus terbang ke luar angkasa. Tetapi aku akan selalu siap untuk kaget hanya karena suatu kenyataan baru yang mungkin, kelak akan aku dapatkan, bahwa bumi itu ternyata datar. Aku bisa meyakini keduanya tanpa harus punya pengalaman inderawi sekalipun atasnya. Terlepas dari itu, aku materialis. Continue reading “Anarkisme : Idealis atau Materialis?”

Kuasa dan Birahi

Bagian I

Sebuah ajaran dari perkumpulan radikal pernah tersebar menghantui kekuasaan tuan tanah dan gereja pada abad pertengahan. Salah satu hal yang menjadi ciri khas dari perkumpulan ini adalah kebiasaan mereka memakai pakaian lusuh, atau terkadang malah bertelanjang, sebab menurut mereka, seseorang seharusnya tak perlu malu terhadap sesuatu yang alami. Mereka mengatakan bahwa, “orang yang bebas berhak melakukan apapun untuk menyenangkan diri mereka. Aku berasal dari kemerdekaan yang alami, dan apa yang dinginkan oleh kealamianku harus kupuaskan … seks adalah berkah dari surga; dan berkah dari surga tidak akan menjadi dosa.” Mereka menyebut ajarannya jiwa bebas (free spirit). Continue reading “Kuasa dan Birahi”

Kebangkitan Global Fundamentalis dan Ultra-Nasionalis: Bukan Akhir dari Sejarah

Francis Fukuyama, seorang filsuf ternama yang mengembangkan konsep politik ‘akhir dari sejarah’ (end of history), baru-baru ini mengaku ketakutan dengan masa depan demokrasi setelah melihat kasus keluarnya Inggris dari Uni Eropa, Brexit, dan kemenangan Trump pada Pilpres Amerika Serikat (AS). Dua dekade yang lalu, Fukuyama memberikan bayangan global setelah Perang Dingin berakhir dengan menyatakan bahwa detik-detik penghancuran Tembok Berlin 1989 adalah kemenangan demokrasi liberal pasar bebas atas komunisme. Dengan demikian, ini menjadi bentuk final dari pemerintahan manusia. Ia tidak pernah menduga bahwa demokrasi liberal berjalan mundur dengan kebangkitan kekuatan konservatif dan ultra-nasionalis seperti pada Perang Dunia II. Continue reading “Kebangkitan Global Fundamentalis dan Ultra-Nasionalis: Bukan Akhir dari Sejarah”