Hantu Blondo Celong

Di sini sekarang aku tinggal, di sekretariat Lentera. Sekarang lagi musim semi, dan bunga-bunga di sekretariat bermekaran, pohon-pohon juga berbunga, aku juga berbunga. Di seberang ruang rapat ada sepetak lahan kecil yang kami tanami cabai, tomat dan kol. Di seberang pagarnya ada rumpun bambu. Di samping lahan, ada pondok-pondok kecil yang tidak terpakai. Dulu, kami kerap minum es jeruk nipis sambil bergitar di sana. Di atas kantor Lentera ada sebuah pendopo luas khas Jawa, diskusi dan nonton film sering diadakan di situ. Di seberang sekretariat, persis di samping kanan jalan turun yang curam itu, ada hutan-hutan yang lebatnya meneduhkan hati. Dulu aku membayangkan punya rumah kecil di situ, ukurannya empat meter persegi, dan sahabatku juga punya rumah berukuran sama di sekelilingku. Kami mau membangun kampung anarkis dengan berbagai hal yang dimiliki secara kolektif, dan segala urusan kampung itu kami musyawarahkan bersama, lalu kami bercocok tanam. Sepanjang hari cuacanya sangat sejuk, apalagi sambil menyeduh teh hitam yang dibeli Andri di Medini, aku bisa menulis dengan lancar dan lupa waktu. Continue reading “Hantu Blondo Celong”

Iklan

Aksi Petani Kendeng yang Anarkis

Pada November 1999, sebuah aksi massa yang berlangsung selama lima hari nyaris membuat jadwal konferensi World Trade Organization (WTO) di Seattle, Amerika Serikat, gagal total. Aksi ini terkonsolidasi oleh 75.000 demonstran untuk menentang keras ketidakadilan global akibat ulah WTO, IMF dan Bank Dunia. Media massa tercengang karena jumlah yang besar tersebut dimobilisasi tanpa ada kelompok atau pimpinan tunggal satu pun di balik aksi yang rapi ini. Continue reading “Aksi Petani Kendeng yang Anarkis”

Terlalu Keras, Ibukota Bikin Sakit Tiga Mahasiswa Magang

Arya Adikristya, mahasiswa UKSW, dalam kondisi sakit (Foto: Bima Satria Putra).
Arya Adikristya, mahasiswa UKSW, dalam kondisi sakit (Foto: Bima Satria Putra).

Arya Adikristya tampak lemas di atas kasurnya, pada Selasa (24/01) di Jakarta. Baru tiga hari ia di kota ini. Setelah lelah berjalan-jalan pada hari pertama di kampus Universitas Indonesia, ia sudah meminta pulang. Padahal ia bersama dua temannya lagi berencana untuk menginap di Depok. Kenapa? “Entahlah, ingin pulang saja,” ujarnya layu. Keesokan malamnya, mahasiswa UKSW ini tidak bisa tidur hingga pukul 4 pagi. Lusanya ia sudah berobat ke Rumah Sakit Agung dan terlentang seharian di kasur. Continue reading “Terlalu Keras, Ibukota Bikin Sakit Tiga Mahasiswa Magang”

Kritik Tia Setiadi Terhadap Puisi-Puisi Cinta

vampires-kiss

Tia Setiadi, pegiat sastra yang menjadi kurator dalam buku antologi puisi “Ia Terbangun di Tahun Yang Belum Tercatat di Kalender” menulis sebuah kata pengantar yang pedas terhadap mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNY, penulis-penulis puisi di buku tersebut. Yang menjadi keprihatinan utamanya adalah muatan-muatan dalam puisi mereka, terutama yang kebanyakan menjurus ke dalam bentuk puisi cinta. Continue reading “Kritik Tia Setiadi Terhadap Puisi-Puisi Cinta”

Agama adalah Warisan!

jesus-of-maryknoll

Seorang anak dilahirkan dalam keadan polos, seputih kertas. Masyarakat kemudian menoreh tinta kepadanya, nilai tentang yang baik dan yang buruk, secara sengaja maupun tidak. Proses penulisan nilai-nilai tersebut memakan waktu, sepanjang hidupnya. Lahirnya individu hingga meninggal, individu dan masyarakat selalu berinteraksi. Dalam ilmu sosial, penanaman nilai-nilai itu disebut sebagai sosialisasi.

Continue reading “Agama adalah Warisan!”

Penulis Aneh dari Jepang, Ryunosuke Akutagawa

Waktu aku melintas di selasar perpustakaan kampus, sedang diadakan obral buku di situ. Harganya miring dan bervariasi, mulai dari 5 ribu, 10 ribu, hingga 25 ribu. Kemudian kuborong hingga lima buku saat itu. Malamnya, kubaca salah satu novel pendek tulisan Akutagawa Ryunosuke yang kubeli, Kappa.

Continue reading “Penulis Aneh dari Jepang, Ryunosuke Akutagawa”