Aku Perempuan, Kau Bisa Memukulku

Aku Perempuan, Kau Bisa Memukulku (Karya Bima Satria Putra)
Aku Perempuan, Kau Bisa Memukulku (Karya Bima Satria Putra)

Saat jam istirahat, beberapa petinggi serikat pekerja perempuan di sebuah pabrik tekstil sedang membagikan selebaran. “Kapitalisme dan patriarki memperkosamu, berkelahilah seperti perempuan!” begitu tulisnya. Seorang pekerja perempuan cantik membacanya. Lalu dibuangnya. Ia tidak peduli. Lanjutkan membaca Aku Perempuan, Kau Bisa Memukulku

Dua Bocah Sialan

Dua bocah sialan (Karya Bima Satria Putra)
Dua bocah sialan (Karya Bima Satria Putra)

Ada dua orang bocah gelandangan. Yang satu bodoh, tapi kuat dan berbadan besar. Yang satu pintar, tapi lemah dan berbadan kecil. Jadi, persahabatan mereka berdua, anggap saja, saling melengkapi.

Mereka tidak tahu darimana mereka berasal. Sejak sadar dengan kehidupan, mereka sudah tinggal di bekas gedung teater tua dan dirawat oleh semua gelandangan kota.

“Kamu lihat patung pendiri kota di taman? Kalian berdua lahir dari situ,” ujar seorang pencuri kepada mereka. Lanjutkan membaca Dua Bocah Sialan

Di Bawah Peron Stasiun

Di Bawah Peron Stasiun (Karya Bima Satria Putra)
Di Bawah Peron Stasiun (Karya Bima Satria Putra)

Seorang karyawan pabrik tekstil masuk ke dalam stasiun. Kartu pengenalnya ia tutupi di balik mantel. Padahal jabatannya tidak rendah, tapi tetap saja ia malu. Sebagai pengawas produksi, tugasnya cuma satu, mengawasi lima ratus pekerja lain supaya bekerja dengan benar. Ada beberapa prosedur yang harus mereka taati. Ia dapat menegur pekerja jika terjadi kesalahan. Sayangnya, ia tidak dapat menegur manajer pengolahan akhir dan direksi karena membuang limbah. Lanjutkan membaca Di Bawah Peron Stasiun

Ciduk

Mbah Waginem sudah tidak kuat berjalan, kakinya bergetar terus. Kalau ke ruang tamu, harus dipapah cucunya. Setelah sebelah matanya menderita katarak, Mbah Waginem hanya menyaksikan remang kegelapan selama 20 tahun. Sebuah waktu yang menyiksa untuk akhir hidup.

“Mbah, usianya berapa mbah?” tanya Maya dalam Bahasa Jawa.

“Hah..?” jawab mbah.

Lanjutkan membaca Ciduk