Jejak Langkah Imbas

Beberapa orang sibuk memeriksa kertas. Tiga orang lagi duduk santai dalam ruangan itu, lantai satu perpustakaan UKSW. Ruangan itu adalah kantornya XT Radio –radio Fakultas Teknik Jurusan Elektro (FTJE) –sekarang FTEK UKSW. “Imbas sudah tidak di sini mas. Sudah lama tidak aktif,” ujar salah satunya. Ruangan itu menjadi saksi bisu perjalanan Imbas. Sebab, pada 2004, Imbas sempat berkantor di sana. Lanjutkan membaca Jejak Langkah Imbas

Balai Poestaka dan Sastra Pinggiran

Tulisan Joss Wibisono berjudul “Melajoe Belanda” (Tempo, 8 September 2013) menjelaskan bagaimana Balai Poestaka, sebuah lembaga kolonial yang melakukan penerbitan, mempunyai peran untuk menyebarkan dan menjaga bahasa Melayu, terutama Melayu Riau, yang disebut sebagai Melayu tinggi. Sayangnya, dalam tulisan itu Joss kehilangan rincian yang cukup penting mengenai aktivitas Balai Poestaka dalam rangka tidak hanya menyebarkan bahasa Melayu, tapi turut ‘meminggirkan’ karya sastra daerah, terutama yang menggunakan bahasa Melayu rendah. Tulisan ini menjadi pelengkap apa yang hilang dari tulisan Joss. Lanjutkan membaca Balai Poestaka dan Sastra Pinggiran

Tentang Kawanan Pandir

Demokrasi adalah… lupakan soal definisi yang kaku mengenai demokrasi. Saya akan memberi penjelasan langsung. Jika anda mempunyai hak menentukan keputusan mengenai berapa jumlah bayaran pajak bumi dan bangunan, atau berapa jumlah kucuran subsidi bahan bakar minyak, itu namanya demokrasi. Entah itu secara langsung atau perwakilan, jika anda dapat terlibat aktif mengontrol kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dan berkaitan dengan dengan kebutuhan hidup anda, itu baru demokrasi. Pengertian seperti ini dapat ditemukan dengan mudah di kamus-kamus dan Wikipedia.

Pada kenyataannya, demokrasi tidaklah demikian. Apakah kita merasa dapat terlibat secara aktif dan menentukan berapa jumlah bayaran pajak dan subsidi bahan bakar? Tidak. Apakah kita peduli? Tidak. Karena kita sengaja dibuat tidak peduli. Lanjutkan membaca Tentang Kawanan Pandir

Hais

sad_sketch_by_chartzan-d37680g

Ketika tangan berbulu lebat bertato menyentuh pundakmu,
Aku menghantamnya dan kami berkelahi.
Sayang aku kalah dan mati, dan mayatku dilempar ke sebuah jurang tidak jauh dari pusat kota.
Arwahku menangis dan menghantui warga sekitar.
***
Seseorang mengawasimu dari luar jendela tiap malam.
Apa kau menyadarinya?
Aku dan teman-teman berencana patrol keliling rumah.
Esoknya ayah dan ibumu, dan bibi dan pamanmu, dan seluruh kakak adikmu, mati.
Kami yang membunuhnya.