Ciduk

Mbah Waginem sudah tidak kuat berjalan, kakinya bergetar terus. Kalau ke ruang tamu, harus dipapah cucunya. Setelah sebelah matanya menderita katarak, Mbah Waginem hanya menyaksikan remang kegelapan selama 20 tahun. Sebuah waktu yang menyiksa untuk akhir hidup.

“Mbah, usianya berapa mbah?” tanya Maya dalam Bahasa Jawa.

“Hah..?” jawab mbah.

Continue reading “Ciduk”

Iklan

Jejak Langkah Imbas

Beberapa orang sibuk memeriksa kertas. Tiga orang lagi duduk santai dalam ruangan itu, lantai satu perpustakaan UKSW. Ruangan itu adalah kantornya XT Radio –radio Fakultas Teknik Jurusan Elektro (FTJE) –sekarang FTEK UKSW. “Imbas sudah tidak di sini mas. Sudah lama tidak aktif,” ujar salah satunya. Ruangan itu menjadi saksi bisu perjalanan Imbas. Sebab, pada 2004, Imbas sempat berkantor di sana. Continue reading “Jejak Langkah Imbas”

Balai Poestaka dan Sastra Pinggiran

balai-poestakajpg_iKn5ITulisan Joss Wibisono berjudul “Melajoe Belanda” (Tempo, 8 September 2013) menjelaskan bagaimana Balai Poestaka, sebuah lembaga kolonial yang melakukan penerbitan, mempunyai peran untuk menyebarkan dan menjaga bahasa Melayu, terutama Melayu Riau, yang disebut sebagai Melayu tinggi. Sayangnya, dalam tulisan itu Joss kehilangan rincian yang cukup penting mengenai aktivitas Balai Poestaka dalam rangka tidak hanya menyebarkan bahasa Melayu, tapi turut ‘meminggirkan’ karya sastra daerah, terutama yang menggunakan bahasa Melayu rendah. Tulisan ini menjadi pelengkap apa yang hilang dari tulisan Joss. Continue reading “Balai Poestaka dan Sastra Pinggiran”

Tentang Kawanan Pandir

May 1968 - CopyDemokrasi adalah… lupakan soal definisi yang kaku mengenai demokrasi. Saya akan memberi penjelasan langsung. Jika anda mempunyai hak menentukan keputusan mengenai berapa jumlah bayaran pajak bumi dan bangunan, atau berapa jumlah kucuran subsidi bahan bakar minyak, itu namanya demokrasi. Entah itu secara langsung atau perwakilan, jika anda dapat terlibat aktif mengontrol kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dan berkaitan dengan dengan kebutuhan hidup anda, itu baru demokrasi. Pengertian seperti ini dapat ditemukan dengan mudah di kamus-kamus dan Wikipedia.

Pada kenyataannya, demokrasi tidaklah demikian. Apakah kita merasa dapat terlibat secara aktif dan menentukan berapa jumlah bayaran pajak dan subsidi bahan bakar? Tidak. Apakah kita peduli? Tidak. Karena kita sengaja dibuat tidak peduli. Continue reading “Tentang Kawanan Pandir”

Bercinta di Ladang Gandum

ladang gandum

Wereng, cangkul, batang gandum yang patah, gubug, pohon yang rindang, pupuk, cacing yang kepanasan, debu yang terbang ditiup angin, singkong yang mencuat ke atas tanah, ulat bulu, mesin traktor yang menyala, awan, orang-orangan sawah, caping dan kayu bakar melihat iri kepada sepasang manusia yang bercinta di ladang gandum.

Hais

sad_sketch_by_chartzan-d37680g

Ketika tangan berbulu lebat bertato menyentuh pundakmu,
Aku menghantamnya dan kami berkelahi.
Sayang aku kalah dan mati, dan mayatku dilempar ke sebuah jurang tidak jauh dari pusat kota.
Arwahku menangis dan menghantui warga sekitar.
***
Seseorang mengawasimu dari luar jendela tiap malam.
Apa kau menyadarinya?
Aku dan teman-teman berencana patrol keliling rumah.
Esoknya ayah dan ibumu, dan bibi dan pamanmu, dan seluruh kakak adikmu, mati.
Kami yang membunuhnya.

Ruang Publik : Menjunjung Tinggi Kebebasan Berbicara

JuergenHabermas

Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata ruang publik? Alun-alun kota atau pasar dimana orang-orang saling bertukar pikiran dan pendapat? Live Streaming acara berita di sebuah stasiun televisi swasta Indonesia di mana orang-orang dapat memberikan komentar tentang suatu kejadian dan fenomena? Warung makan dan ruang tamu?

Benar, ruang publik sendiri sebenarnya mengacu pada suatu ruang yang dapat di akses semua orang dari berbagai latar belakang yang berbeda dan di mana juga mengacu peranan masyarakat warga dalam demokrasi. Continue reading “Ruang Publik : Menjunjung Tinggi Kebebasan Berbicara”