Anarkisme : Idealis atau Materialis?

Baca normal : 17 menit

Sudah sejak lama aku memutuskan diri menjadi materialis. Aku percaya bahwa kenyataan yang sungguh nyata adalah materi, sedangkan kesadaran atau pikiran kita hanyalah gejala sekunder dari proses material belaka. Pikiran dan jiwa misalnya, tidak memiliki status ontologis apapun. Pikiran dan jiwa tidak aku pahami keberadaannya secara riil, mengingat ia berasal dari kerja otak, serta apapun yang menopangnya, baik detak jantung, pembuluh darah, dan tulang belakang. Secara epistemologis, aku percaya bahwa pengalaman yang kongkrit hanya berasal dari hasil observasi indrawi, dan karenanya segala tindakan apapun yang aku lakukan, haruslah berdasarkan pertimbangan faktor-faktor material tersebut. Tetapi bukan berarti aku harus menjadi seorang positifis murni, yang karena terlalu mengandalkan pengetahuan empiris, mengabaikan pertimbangan-pertimbangan yang ideal, dalam bentuknya yang jauh, yang abstrak, absurd dan irasional. Penyampingan terhadap hal-hal yang ideal berarti menutup kemungkinan akan sesuatu yang mustahil, sekecil apapun kemungkinan tersebut. Maksudnya, aku percaya dan yakin bahwa bumi itu bulat, karena observasi dan eksperimen soal ini sudah terlampau banyak memvalidasikannya, tanpa aku harus membacanya, atau terlebih lagi dengan harus terbang ke luar angkasa. Tetapi aku akan selalu siap untuk kaget hanya karena suatu kenyataan baru yang mungkin, kelak akan aku dapatkan, bahwa bumi itu ternyata datar. Aku bisa meyakini keduanya tanpa harus punya pengalaman inderawi sekalipun atasnya. Terlepas dari itu, aku materialis. Continue reading “Anarkisme : Idealis atau Materialis?”

Iklan

Kuasa dan Birahi

Bagian I

Sebuah ajaran dari perkumpulan radikal pernah tersebar menghantui kekuasaan tuan tanah dan gereja pada abad pertengahan. Salah satu hal yang menjadi ciri khas dari perkumpulan ini adalah kebiasaan mereka memakai pakaian lusuh, atau terkadang malah bertelanjang, sebab menurut mereka, seseorang seharusnya tak perlu malu terhadap sesuatu yang alami. Mereka mengatakan bahwa, “orang yang bebas berhak melakukan apapun untuk menyenangkan diri mereka. Aku berasal dari kemerdekaan yang alami, dan apa yang dinginkan oleh kealamianku harus kupuaskan … seks adalah berkah dari surga; dan berkah dari surga tidak akan menjadi dosa.” Mereka menyebut ajarannya jiwa bebas (free spirit). Continue reading “Kuasa dan Birahi”

Anda Tidak Benci Politik, Anda Benci Negara

Kita menyaksikan sendiri bahwa saat ini, golongan putih (golput)[1] akan terus meningkat seiring ketidakpercayaan publik pada para politikus. Banyak orang melemparkan penyesalan dan menatap masa lalu manakala orang-orang lebih berorientasi pada komunitas[2] dan peduli urusan publik. Merosotnya orientasi komunitas dan kepedulian urusan publik menjadi topik kesedihan para komentator dari seluruh spektrum politik. Kalangan liberal menyalahkan kekuasaan tak terbatas korporasi-korporasi atas kemerosotan ini. Sementara kaum konservatif Amerika menyalahkan negara yang tersentralisasi, menyarankan untuk desentralisasi pada aras federal. Continue reading “Anda Tidak Benci Politik, Anda Benci Negara”

Aksi Petani Kendeng yang Anarkis

Pada November 1999, sebuah aksi massa yang berlangsung selama lima hari nyaris membuat jadwal konferensi World Trade Organization (WTO) di Seattle, Amerika Serikat, gagal total. Aksi ini terkonsolidasi oleh 75.000 demonstran untuk menentang keras ketidakadilan global akibat ulah WTO, IMF dan Bank Dunia. Media massa tercengang karena jumlah yang besar tersebut dimobilisasi tanpa ada kelompok atau pimpinan tunggal satu pun di balik aksi yang rapi ini. Continue reading “Aksi Petani Kendeng yang Anarkis”

Di Bawah Peron Stasiun

Di Bawah Peron Stasiun (Karya Bima Satria Putra)
Di Bawah Peron Stasiun (Karya Bima Satria Putra)

Seorang karyawan pabrik tekstil masuk ke dalam stasiun. Kartu pengenalnya ia tutupi di balik mantel. Padahal jabatannya tidak rendah, tapi tetap saja ia malu. Sebagai pengawas produksi, tugasnya cuma satu, mengawasi lima ratus pekerja lain supaya bekerja dengan benar. Ada beberapa prosedur yang harus mereka taati. Ia dapat menegur pekerja jika terjadi kesalahan. Sayangnya, ia tidak dapat menegur manajer pengolahan akhir dan direksi karena membuang limbah. Continue reading “Di Bawah Peron Stasiun”