Ciduk

Mbah Waginem sudah tidak kuat berjalan, kakinya bergetar terus. Kalau ke ruang tamu, harus dipapah cucunya. Setelah sebelah matanya menderita katarak, Mbah Waginem hanya menyaksikan remang kegelapan selama 20 tahun. Sebuah waktu yang menyiksa untuk akhir hidup.

“Mbah, usianya berapa mbah?” tanya Maya dalam Bahasa Jawa.

“Hah..?” jawab mbah.

Lanjutkan membaca Ciduk

Semangat Berta Cáceres dalam Women March 2017

Ada beberapa poster dan spanduk yang menarik perhatian saya pada Woman March, Sabtu, 4 Maret 2017. Salah satunya adalah poster yang bertuliskan “Keadilan untuk Perempuan Pembela Lingkungan dan Agraria”. Atribut lain yang tidak kalah menarik adalah sebuah spanduk bertuliskan “Selamatkan Perempuan dan Anak-Anak dari Bencana Iklim”, yang tampak sangat mencolok karena warna merah muda dan ukurannya yang besar.

Namun dari semuanya, yang paling saya sukai adalah sebuah poster bertuliskan “Justice for Berta.” Berta Cáceres, yang dimaksud dalam poster itu, adalah pemimpin perempuan gerakan adat di Honduras yang ditembak hingga mati pada Maret 2016. Pejuang lingkungan yang pernah menerima penghargaan Goldman pada 2015 ini diduga dibunuh karena kampanyenya melawan bendungan hidroelektrik yang didanai secara internasional. Selama bertahun-tahun ia diancam dan diintimidasi. Setelah kematiannya, delapan laki-laki telah ditahan karena dianggap sebagai pelaku pembunuhan. Diantaranya adalah seorang laki-laki yang masih bertugas di militer dan dua laki-laki pensiunan pimpinan tentara.

Masuknya gagasan-gagasan hijau pada Aksi Hari Perempuan Internasional yang lalu adalah pertanda baik bagi kita, terutama perempuan. Ketika sebagian besar massa aksi didominasi perempuan kelas menengah perkotaan yang mengeluh soal otoritas tubuh, pejuang perempuan adat, agraria dan lingkungan hidup, dengan demikian tidak ditingal dalam barisan aksi. Ini sekaligus menjadi gejala adanya upaya untuk mendobrak derasnya arus utama wacana keadilan gender di Indonesia.

Banyak kajian yang menunjukan bahwa kelestarian lingkungan hidup mempunyai dampak yang positif terhadap perempuan. Begitu pula sebaliknya, bahwa pembebasan perempuan berpengaruh kepada pembebasan ekologis. Sebagai contoh adalah krisis air misalnya, yang sangat berpengaruh kepada perempuan.

Air adalah sebuah entitas yang sangat dekat dengan perempuan, terutama pada banyak negara berkembang, mengingat mereka melakukan kerja-kerja domestik. Memasak, mencuci, dan memandikan anak, adalah sebagian pekerjaan yang secara gender identik dengan perempuan. Jika terjadi krisis air, maka perempuan yang paling pertama terkena imbasnya, mengingat mereka punya tanggungjawab terhadap penyediaan air rumah tangga.

Pada banyak wilayah rural di India, jutaan perempuan dan anak-anak menempuh jarak 2,5 km untuk mencapai mata air terdekat. Sebagai sebuah negara dengan perkembangan ekonomi terbesar ketiga di Asia, sangat ironis ketika menyaksikan bahwa sekolah ditutup lebih cepat, supaya siswa, terutama perempuan, dapat membantu ibunya mengambil air. Banyak laporan yang menunjukan bahwa perempuan dan anak-anak tewas karena krisis air di India. Yogita Desai, gadis berusia 11 tahun dari Maharashtra, tewas dehidrasi setelah berjalan empat jam dalam temperatur ekstrem yang mencapai 42°C untuk mencari air. Sementara Chabubai Khamkar kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke dalam sumur pada ketinggian 40 kaki hingga tewas.

Pembangunan menjadi jargon omong kosong belaka manakala angka-angka dalam laporan statistik ekonomi India pada kenyataannya tidak menunjukan bahwa pembangunan benar-benar berpihak kepada rakyat. Kebanyakan sumber mata air di India, dikelola dan digunakan untuk kepentingan pertanian, industri dan sektor domestik populasi kota besar yang kebutuhan air semakin meningkat karena perubahan gaya hidup. Jadi, sementara anda dapat mandi dengan bersih dan menghamburkan banyak air, saudari kita di India harus mati dalam mencari salah satu unsur penting dalam menjamin kehidupan.

Jika India terlalu jauh, kita bisa menengok emak-emak di Muara Baru, Jakarta. Di sini mereka terpaksa bergadang semalaman untuk mendapatkan air yang terkadangmengalir tidak menentu, itupun dengan kualitas buruk. Padahal, mereka juga kelelahan dengan jam kerja rumah tangga, tapi karena krisis air, perempuan semakin menghabiskan lebih banyak waktu, tenaga dan biaya untuk penyediaan air kebutuhan sehari-hari jika krisis air terjadi.

Sama dengan air, penggunaan energi terbarukan yang memiliki dampak minimal ke lingkungan sangat penting. Seorang teman aktivis lingkungan pernah bercerita kepada saya soal pengalamannya selama advokasi korban pembangunan PLTU batubara. Ia menyaksikan sendiri bagaimana pembangkit listrik dengan bahan bakar fosil itu sangat menyulitkan istri nelayan. Pembuangan air untuk proses aktivitas PLTU memberikan dampak merusak kepada ekosistem laut pesisir di sekitarnya.

Sementara itu, banyak nelayan, yang sebagian besar laki-laki, hanya memiliki kapal dengan kapasitas kecil dan jarak jelajah dekat. Jika laut pesisir rusak, nelayan harus melaut lebih jauh dan lebih lama. Jika demikian, maka melaut menjadi lebih berbahaya karena gelombang yang semakin besar dan menjadi semakin mahal karena peningkatan penggunaan bahan bakar. Karena itu, banyak nelayan yang kehilangan mata pencahariannya. Untuk membantu memenuhi kehidupan keluarga, beberapa istri nelayan terpaksa melacur. Karena itu PLTU batubara tidak hanya menyebabkan polusi, tetapi juga prostitusi. Penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan ini berdampak secara sosial dan ekologi.

Penggunaan energi kotor tidak hanya terjadi di sektor hilir, tetapi juga di hulu, yaitu pada bidang industri ekstraktif. Tambang batubara yang akan digunakan sebagai bahan bakar PLTU memiliki dampak yang sangat buruk karena mencemari air. Perempuan dalam hal ini punya resiko lebih besar karena terpapar air yang telah tercemar. Selain itu, tambang seringkali berbahaya karena dekat dengan pemukiman warga.

Nadia Zaskia Putri, gadis berusia 10 tahun yang masihduduk di kelas 5 SD tewas saat berenang di sebuah lubang tambang di Samarinda. Sepanjang 2011-2016, 26 anak-anak telah tewas karena bermain dikawasan bekas tambang. Padahal, data tersebut belum termasuk kasus yang tidak dilaporkan atau tidak diketahui. Bisa saja jumlahnya lebih besar, mengingat kepolisian dianggap tidak serius dalam melakukan penyelidikan dan karena usaha pertambangan berkaitan dengan elit politik lokal.

Seberapa besar peranan perempuan dalam gerakan lingkungan? Jangan salah, kesadaran ekologis karena kedekatan perempuan dengan alam justru menjadi pemantik utama dalam gerakan lingkungan. Tanpa bermaksud mengkerdilkan peranan laki-laki, tetapi pada banyak kasus, perempuan justru maju dalam barisan terdepan dalam menjaga lingkungannya. Kita kembali ke India pada tahun 80’an, ketika perempuan memeluk pohon yang hendak ditebang suami mereka. Gerakan Chipko namanya. Gerakan konservasi hutan itu berangkat dari kesadaran perempuan bahwa mereka adalah yang paling terkena dampak buruk dari deforestasi. Mulai dari kesulitan mencari kayu bakar, bahan pangan, dan air untuk minum dan irigasi.

Sementara itu saat ini di Rembang, Indonesia, petani perempuan mencoba menggagalkan eksploitasi Pegunungan Kendeng oleh pabrik semen. Selain sebagai taktik gerakan sosial, majunya petani perempuan tersebut juga berangkat dari kesadaran ekologis yang sama dengan gerakan Chipko. Pembangunan pabrik semen dapat merusak ratusan mata air yang selama ini menjadi sandaran kehidupan masyarakat, baik kebutuhan sehari-hari maupun irigasi lahan pertanian.

Dari semua yang saya jelaskan, kita bisa melihat korelasi antara penindasan oleh negara, patriarki, dan terutama kapitalisme, terhadap ibu dan ibu bumi. Karena itu, merawat ibu bumi berarti membantu ibu. Pembebasan yang sepenuhnya seharusnya juga membebaskan perempuan. Seperti seorang anarko-feminis, Emma Goldman pernah tulis, “If i can’t dance, it’s not my revolution!” Dalam hal ini saya juga ingin menambahkan, pembebasan yang sepenuhnya, berarti pembebasan berbasis gender dan ekologi pula. “If mother earth doesn’t dance, so do mother! Biarlah semangat Berta Cáceres dilanjutkan oleh perempuan-perempuan lain yang tangguh.

Artikel ini terbit pula di Bersatoe.com.

Aku Perempuan, Kau Bisa Memukulku

Aku Perempuan, Kau Bisa Memukulku (Karya Bima Satria Putra)
Aku Perempuan, Kau Bisa Memukulku (Karya Bima Satria Putra)

Saat jam istirahat, beberapa petinggi serikat pekerja perempuan di sebuah pabrik tekstil sedang membagikan selebaran. “Kapitalisme dan patriarki memperkosamu, berkelahilah seperti perempuan!” begitu tulisnya. Seorang pekerja perempuan cantik membacanya. Lalu dibuangnya. Ia tidak peduli. Lanjutkan membaca Aku Perempuan, Kau Bisa Memukulku

Dua Bocah Sialan

Dua bocah sialan (Karya Bima Satria Putra)
Dua bocah sialan (Karya Bima Satria Putra)

Ada dua orang bocah gelandangan. Yang satu bodoh, tapi kuat dan berbadan besar. Yang satu pintar, tapi lemah dan berbadan kecil. Jadi, persahabatan mereka berdua, anggap saja, saling melengkapi.

Mereka tidak tahu darimana mereka berasal. Sejak sadar dengan kehidupan, mereka sudah tinggal di bekas gedung teater tua dan dirawat oleh semua gelandangan kota.

“Kamu lihat patung pendiri kota di taman? Kalian berdua lahir dari situ,” ujar seorang pencuri kepada mereka. Lanjutkan membaca Dua Bocah Sialan

Di Bawah Peron Stasiun

Di Bawah Peron Stasiun (Karya Bima Satria Putra)
Di Bawah Peron Stasiun (Karya Bima Satria Putra)

Seorang karyawan pabrik tekstil masuk ke dalam stasiun. Kartu pengenalnya ia tutupi di balik mantel. Padahal jabatannya tidak rendah, tapi tetap saja ia malu. Sebagai pengawas produksi, tugasnya cuma satu, mengawasi lima ratus pekerja lain supaya bekerja dengan benar. Ada beberapa prosedur yang harus mereka taati. Ia dapat menegur pekerja jika terjadi kesalahan. Sayangnya, ia tidak dapat menegur manajer pengolahan akhir dan direksi karena membuang limbah. Lanjutkan membaca Di Bawah Peron Stasiun

Terlalu keras, ibukota bikin sakit tiga mahasiswa magang

Arya Adikristya, mahasiswa UKSW, dalam kondisi sakit (Foto: Bima Satria Putra).
Arya Adikristya, mahasiswa UKSW, dalam kondisi sakit (Foto: Bima Satria Putra).

Arya Adikristya tampak lemas di atas kasurnya, pada Selasa (24/01) di Jakarta. Baru tiga hari ia di kota ini. Setelah lelah berjalan-jalan pada hari pertama di kampus Universitas Indonesia, ia sudah meminta pulang. Padahal ia bersama dua temannya lagi berencana untuk menginap di Depok. Kenapa? “Entahlah, ingin pulang saja,” ujarnya layu. Keesokan malamnya, mahasiswa UKSW ini tidak bisa tidur hingga pukul 4 pagi. Lusanya ia sudah berobat ke Rumah Sakit Agung dan terlentang seharian di kasur. Lanjutkan membaca Terlalu keras, ibukota bikin sakit tiga mahasiswa magang

Amormetri: cinta dan pola-pola hitungannya

Math and love (Karya Tasia12).
Math and love (Karya Tasia12).

Menggunakan perhitungan dan rumus matematika pada perasaan manusia terasa tidak manusiawi. Merendahkan. Tapi aku percaya bahwa perasaan dapat dipelajari dengan angka-angka dan metode deduktif. Hasilnya pasti. Ada skala dan nominal, dan karenanya maka ia juga dapat dikurangi, ditambahkan, dikali, juga dibagi, macam operasi dasar bilangan. Lanjutkan membaca Amormetri: cinta dan pola-pola hitungannya