Segera setelah aku melihat penjual jamu melintas depan rumah, berteriak aku memanggilnya bercucuran air mata, rebah di bawah kakinya.
“Bude, bilamana dapat hilang sakit asmaraku?”
Bertanya dia, “apa gejalamu, le?”
Dengan sendu aku berkisah:
“Kasihku selalu sepahit brotowali, yang pada gelas minggu kedua malah terasa hambar.
Aku mencintai seorang gadis paling wangi.
Aku ingat bau bedak dingin dipipinya, yang aku sentuh dan cium sepanjang malam.
Bulat matanya kapulaga, lehernya sesegar daun kemangi yang baru dipetik.
Merah bibirnya rebusan kayu secang, semerah rona pipinya yang malu-malu.
Giginya rapih dari kumuran cengkih, membuat senyum dan nafasnya semencolok bau menyan.
Elok dari jauh, tambah elok dari dekat, belum pernah aku merasai kayu manis kualitas terbaik.
Tubuhku menggelinjang dalam penyerbukan, dan muncrat maduku.
Gelisah aku dibuatnya, sehingga ingin aku bertanya apa saja yang dijual tukang jamu selain yang digendongnya?”
Bude menjawab:
“Cah lang sing ganteng, kamu bisa mencoba hal berikut ini.
Iris halus kenanganmu dengannya, campurkan dengan semua hasil tumbukan rasa kesal.
Asam bisa kamu dapatkan dari situ, dan jangan menggunakan setetespun perasan cemburu, supaya lancar peredaran darahmu.
Untuk pemanis, taburkan rindumu, tapi jangan berlebih, karena mahal segenggam rindu.
Kata eyang tidak baik menghabiskannya dalam satu tarikan nafas.
Semuanya dicampur, dan setelah mendidih, tiriskan sifat baiknya dari ampas yang buruk.
Lakukan semua itu dengan satu catatan, biarkan nyala api tetap kecil, supaya jangan rusak khasiat rindumu dan hanya panas dan segera menguap di awal.
Seperti anjuran minum, tegur ia dua kali sehari. Pagi saat memulai hari yang lebih baik dan malam sebelum tidur untuk mimpi yang lebih indah.
Jika dibutuhkan, tuangkan gelas teguran yang ketiga.
Minum hingga puas dahagamu dan hilang sakitmu, bahkan jika itu memerlukan waktu berbulan dan bertahun.
Dengar le? Bagaimanapun juga, tidak ada obat penawar rindu, tidak ada ramuan untuk hati yang sakit, dan tidak ada wewangian yang menenangkan pikiran.
Sembuh itu hanya masalah lupa, sakit adalah mengingat, tapi sehat adalah melanjutkan hidup.
Resep warisan untuk mencintai sebenarnya sesederhana itu, dan tidak perlu kamu ke tukang rempah untuk mencari bahan supaya sembuh sakit asmaramu.”
Penulis Anarkis dengan Pernyataan Bodoh di Masa Mudanya
“If you like a book, don’t meet the author.” —Raymond Chandler
Saat berusia 21 tahun, pada 2016, aku menulis sebuah cerpen yang diterbitkan di blog pribadi. Singkat cerita, seorang pengorganisir buruh perempuan yang sedang menyebarkan pamflet propaganda ditinju tepat di mukanya saat adu mulut dengan rekan kerjanya yang seorang laki-laki. Asumsinya, jika perempuan menuntut kesetaraan, maka mereka harus menerima konsekuensi untuk berkelahi dengan laki-laki dan dianggap lawan yang sepadan. Kalau dipikir-pikir adegan ini mirip sekali dengan komentar misoginis yang lazim kita temui dalam konten-konten bermuatan feminis di media sosial, yang biasanya muncul akibat pemahaman awam yang salah tentang kesetaraan gender. David Graber pernah membahas soal ini dalam esainya Fragments of an Anarchist Anthropology, ketika ia menyinggung wawasan teoritis Slavoj Zizek: mengapa jika seseorang ingin menekankan kesetaraan, cara termudah adalah menunjukkan bahwa mereka juga harus merasakan sakit? Mengapa jika perempuan berjuang untuk kesetaraan gender, maka mereka juga harus sama-sama merasakan beban dan penderitaan laki-laki?
Baca lebih lanjutTanggapan atas Tuduhan Kekerasan Terhadap Queer
Catatan: “Tanggapan Kedua atas Surat Mimzy” bisa dibaca di bagian bawah tulisan ini.
Pada Selasa, 9 Juni 2026, akun X (dulunya Twitter) dengan username @dilaranghetero membuat cuitan sebagai berikut:
Kalau kalian tahu penulis ini pernah melakukan kekerasan ke Transpuan dan Queer masih mau belain seorang laki-laki cishet sotoy omongin isu LGBTIQ+ kaya gini?

Tulisan ini adalah tanggapan terhadap cuitan tersebut.
baca lebih lanjutSaya Tidak Pernah Minum Air Barito, Lalu?: Tanggapan terhadap tulisan “James Scott Tidak Pernah Minum Air Barito” oleh Marko Mahin

Pada Kamis, 4 Juni 2026, Marko Mahin, seorang tokoh cendekiawan Dayak terkemuka dari Kalimantan Tengah, membuat postingan akun Facebook pribadinya yang mengkritik buku Dayak Mardaheka: Sejarah Masyarakat Tanpa Negara di Pedalaman Kalimantan (2021). Postingan tersebut terlampir dalam tulisan ini di bawah. Tulisan ini adalah tanggapan balik. Saya mempunyai empat tanggapan:
Baca lebih lanjutNovel “Kelabang”: Sekedar Catatan

Tulisan ini disusun dengan maksud untuk mengantisipasi kesalahpahaman yang mungkin muncul saat membaca novel Kelabang serta menawarkan topik pemantik yang menarik untuk didiskusikan. Tulisan ini diterbitkan mendahului novel.
1. Ada kemungkinan kalau kajian sastra feminis akan menghasilkan kritik yang salah tempat yang ditujukan kepada penulis. Saya sudah dan akan terus belajar tanpa henti tentang keberagaman gender dan seksual, kesepakatan (consent), misogini, standar kecantikan, dan seluruh isu penting lain yang menjadi agenda perjuangan feminis. Lalu jika sudah paham, kenapa tokoh di Kelabang masih dicitrakan maskulin? Kenapa mempertahankan penggambaran domestifikasi, beban ganda kerja perempuan, dan obyektifikasi tubuh? Kenapa sejumlah adegan yang lebih mirip pemerkosaan dalam pernikahan (marital rape) dipertahankan? Kenapa ada penekanan kuat terhadap heteronormatifitas? (pertanyaan terakhir dijawab nanti). Banyak lagi.
Pertanyaan ini, lebih tepat kalau dianggap sebagai sebuah tuntutan. Saya justru ingin terbebas dari kewajiban moral seorang penulis anarkis untuk selalu menggambarkan apa yang ideal (yang semestinya dan yang harus diwujudkan) sebagai agenda dan topik utama dalam perwujudan tulisannya. Jadi, jangan mengira bahwa novel Kelabang akan menjadi karya yang revolusioner, suatu kritik sosial, pembongkar tatanan eksploitasi, penghasut pemberontakan, atau pemantik imajinasi untuk dunia alternatif yang lebih baik. Saya sudah lakukan itu dalam seluruh tulisan non-fiksi yang lain.
The Power of Ekonomi Klasik

Setelah mengalami kebuntuan dengan kata-kata, bermodal gunting dan lembaran koran bekas, kata-kata mencari jalannya sendiri. Pada 2018, aku memotong kata-kata dari koran lalu menempelnya di papan Deklarasi Hak Asasi Manusia Internasional. Jenis karya ini aku sebut sebagai puisi kliping, tertempel berikut:
The Power of Ekonomi Klasik
Gaya hidup kotoran metropolitan kini kian dibuang,
Kemudahan narkoba racun berliku menepis cahaya krisis properti
Kolaborasi drama bohong presiden manipulasi kegaduhan hutang mulai merugi
Kapan senyum antimanja kedua dimulai
Etika parpol lama resahkan warga
Mengatur proyek politik mutu hiburan Hollywood
Mahasiswa avontur disayang emak-emak
Wajah Wiji Thukul menelusuri pusaran bau tak sedap
Pelemahan masa depan pekerja di markas Korem
Kesempatan merdeka dipertanyakan
Godaan imaji beras
Kejutan penagih makan keluarga
Masih protes petani diatasi lagi
Senjata TNI tidak terelakkan
Jurus komunisme bahan wajib pemerintah
Perjalanan duka berlanjut
Puisi Seremonia
Pabrik aturan disegel
Inflasi sukacita
Punya berita baru
Keluhan milik api
Ragam selebrasi
Dana daya
Marak izin
Judes
Patuh
Revolusi Nomor Dua
”Kamu serius ingin terjerat dalam matrimoni? Dalam ekonomi seperti ini? Laukmu saja kepayahan, dan pundakmu bakal bungkuk menanggung beban untuk nafas istri dan anakmu! Militansi akan berkurang, dan ingat janjimu untuk program organisasi. Lagipula rezim sedang konsol…”
Tanganku membungkam mulutnya, lalu aku berkata, “aku sudah berkorban banyak dalam sepertiga hidupku. Aku ingin jatuh cinta lagi dan menjadikan urusan revolusi nomor dua.”
Hak untuk Terluka
Kita berlari-lari dipukul mundur. Berpegangan tangan di tengah ledakan bom kabut. Terpisah karena aku maju sendiri melempar kaca berpijar. Saat aku kembali kamu melepas masker, lalu mencak-mencak, “lain kali jangan pergi tanpaku!”
Apa maskulin diriku, kalau meminta kasihku berada di garis belakang saja?
Apa misogini diriku, kalau berpendapat puanku tidak punya hak untuk terluka?
Against Kings and Juntas: on Fulfilled Burmese Ancient Prophecy

by Bima Satria Putra*
“The pagoda is finished; the country is ruined.”
—old Burmese proverb
Against the King
Bodawpaya (reign 1782-1819), the sixth king of the Konbaung Dynasty of Burma, is a kind of classic tyrant that we can find in history in any part of the world. He took power after dethroning his 18 year old nephew who had only been king for six days, then executed him by drowning. He also had 137 children from 54 consorts. Being a tyrant is incomplete without going on a military expedition, of course, which he did to the neighboring Arakan (1784), Siam (1785 & 1809), then Manipur and Assam (1817).
Lanjutkan membaca “Against Kings and Juntas: on Fulfilled Burmese Ancient Prophecy”Sejarah Dayak di Pegunungan Meratus

oleh Bima Satria Putra*
Kajian James C. Scott dalam bukunya yang berjudul, The Art of Not Being Governed: An Anarchist History of Upland Southeast Asia (2009), menunjukkan bahwa masyarakat dataran tinggi Asia Tenggara, yang kemudian disebut sebagai Zomia, merupakan masyarakat yang melarikan diri, buron, dan pengungsi yang selama dua milenium telah melarikan diri dari penindasan proyek-proyek pembangunan negara di lembah-lembah—perbudakan, wajib militer, pajak, kerja rodi, epidemi, dan peperangan. Sebagian besar wilayah tempat mereka tinggal dapat disebut sebagai zona perlindungan. Hampir semua hal mulai dari mata pencaharian, organisasi sosial, ideologi, dan yang lebih kontroversial lagi, bahkan budaya lisan mereka, dapat dimaknai sebagai posisi strategis yang dirancang untuk menjaga jarak dari negara. Penyebaran fisik mereka di medan yang terjal, mobilitas mereka, praktik bercocok tanam mereka, struktur kekerabatan mereka, identitas etnis mereka yang fleksibel, dan pengabdian mereka kepada para pemimpin yang profetik dan milenarian secara efektif berfungsi untuk menghindari mereka terisap ke dalam negara, bahkan mencegah negara muncul di tengah-tengah mereka. Jadi, orang-orang di dataran tinggi itu secara aktif memilih untuk tidak bernegara (stateless), atau yang secara politik biasa disebut anarkis.
Lanjutkan membaca “Sejarah Dayak di Pegunungan Meratus”Apakah Batak Punya Sejarah?

oleh ANTHONY REID[1]
Diterjemahkan dari “Is There a Batak History?” (1 November 2006). Asia Research Institute Working Paper No. 78, hlm 104-119.
Ada 6-8 juta orang Batak di Sumatra Utara, yang merupakan salah satu kelompok etnis Indonesia terpenting dan menarik. Leluhur mereka jelas telah berada di Sumatra selama ribuan tahun. Mereka telah menarik perhatian banyak kajian tentang agama dan misiologi, dan beberapa kajian bahasa dan etnologi yang baik. Tapi mereka tetap orang-orang yang tak punya sejarah. Mereka mirip kasus klasik dari Eric Wolf, dalam karyanya Europe and the People Without History, yang berpendapat bahwa pengabaian sejarah orang-orang tanpa negara seperti itu biasanya bukan cuma ketiadaan, tetapi juga penyimpangan atau distorsi (Wolf, 1932:3). Para etnografer dan pejabat kolonial abad ke-19 dan 20 menciptakan kategori Batak sebagai para penghuni dataran tinggi, primitif, proto-Melayu, dan bahkan Batak sebagai kategori etnis, dan menganggap keterasingan mereka yang tidak berubah dari arus sejarah dunia. Tetapi jika mengikuti pendapatnya Wolf, maka orang Batak yang secara paksa dibawa ke dalam kesadaran dunia ilmiah pada tahap itu, sebenarnya sudah sepenuhnya diubah oleh pengaruh internasional –“isolasi” mereka itu sendiri adalah proses sejarah.
Lanjutkan membaca “Apakah Batak Punya Sejarah?”