Aku Sangat Menderita

PERKEMBANGAN anarkisme di Indonesia pada zaman kolonial Hindia Belanda punya karakter unik, yang jika dibandingkan perbedaannya dengan periode setelah 1945 tergolong signifikan. Semuanya dipengaruhi oleh kondisi historis pada waktu itu. Antara perjuangan dengan kesadaran kelas, akumulasi rasa muak dan marah terhadap pemerintahan kolonial, penekanan untuk melakukan pemberontakan bersenjata, dan semakin munculnya wawasan kebangsaan, semuanya tumpang tindih menghasilkan bentuk sinkretik (atau apapun kita hendak menyebutnya) yang aneh. Hingga batasan tertentu, kita bisa melihat bahwa antara nasionalisme radikal dan anarkisme menjadi bias dan tidak terpisahkan karena tujuan-tujuan politik anti-kolonial. Continue reading “Aku Sangat Menderita”

Iklan

Hantu Blondo Celong

Di sini sekarang aku tinggal, di sekretariat Lentera. Sekarang lagi musim semi, dan bunga-bunga di sekretariat bermekaran, pohon-pohon juga berbunga, aku juga berbunga. Di seberang ruang rapat ada sepetak lahan kecil yang kami tanami cabai, tomat dan kol. Di seberang pagarnya ada rumpun bambu. Di samping lahan, ada pondok-pondok kecil yang tidak terpakai. Dulu, kami kerap minum es jeruk nipis sambil bergitar di sana. Di atas kantor Lentera ada sebuah pendopo luas khas Jawa, diskusi dan nonton film sering diadakan di situ. Di seberang sekretariat, persis di samping kanan jalan turun yang curam itu, ada hutan-hutan yang lebatnya meneduhkan hati. Dulu aku membayangkan punya rumah kecil di situ, ukurannya empat meter persegi, dan sahabatku juga punya rumah berukuran sama di sekelilingku. Kami mau membangun kampung anarkis dengan berbagai hal yang dimiliki secara kolektif, dan segala urusan kampung itu kami musyawarahkan bersama, lalu kami bercocok tanam. Sepanjang hari cuacanya sangat sejuk, apalagi sambil menyeduh teh hitam yang dibeli Andri di Medini, aku bisa menulis dengan lancar dan lupa waktu. Continue reading “Hantu Blondo Celong”

Anarkisme : Idealis atau Materialis?

Baca normal : 17 menit

Sudah sejak lama aku memutuskan diri menjadi materialis. Aku percaya bahwa kenyataan yang sungguh nyata adalah materi, sedangkan kesadaran atau pikiran kita hanyalah gejala sekunder dari proses material belaka. Pikiran dan jiwa misalnya, tidak memiliki status ontologis apapun. Pikiran dan jiwa tidak aku pahami keberadaannya secara riil, mengingat ia berasal dari kerja otak, serta apapun yang menopangnya, baik detak jantung, pembuluh darah, dan tulang belakang. Secara epistemologis, aku percaya bahwa pengalaman yang kongkrit hanya berasal dari hasil observasi indrawi, dan karenanya segala tindakan apapun yang aku lakukan, haruslah berdasarkan pertimbangan faktor-faktor material tersebut. Tetapi bukan berarti aku harus menjadi seorang positifis murni, yang karena terlalu mengandalkan pengetahuan empiris, mengabaikan pertimbangan-pertimbangan yang ideal, dalam bentuknya yang jauh, yang abstrak, absurd dan irasional. Penyampingan terhadap hal-hal yang ideal berarti menutup kemungkinan akan sesuatu yang mustahil, sekecil apapun kemungkinan tersebut. Maksudnya, aku percaya dan yakin bahwa bumi itu bulat, karena observasi dan eksperimen soal ini sudah terlampau banyak memvalidasikannya, tanpa aku harus membacanya, atau terlebih lagi dengan harus terbang ke luar angkasa. Tetapi aku akan selalu siap untuk kaget hanya karena suatu kenyataan baru yang mungkin, kelak akan aku dapatkan, bahwa bumi itu ternyata datar. Aku bisa meyakini keduanya tanpa harus punya pengalaman inderawi sekalipun atasnya. Terlepas dari itu, aku materialis. Continue reading “Anarkisme : Idealis atau Materialis?”

Kuasa dan Birahi

Bagian I

Sebuah ajaran dari perkumpulan radikal pernah tersebar menghantui kekuasaan tuan tanah dan gereja pada abad pertengahan. Salah satu hal yang menjadi ciri khas dari perkumpulan ini adalah kebiasaan mereka memakai pakaian lusuh, atau terkadang malah bertelanjang, sebab menurut mereka, seseorang seharusnya tak perlu malu terhadap sesuatu yang alami. Mereka mengatakan bahwa, “orang yang bebas berhak melakukan apapun untuk menyenangkan diri mereka. Aku berasal dari kemerdekaan yang alami, dan apa yang dinginkan oleh kealamianku harus kupuaskan … seks adalah berkah dari surga; dan berkah dari surga tidak akan menjadi dosa.” Mereka menyebut ajarannya jiwa bebas (free spirit). Continue reading “Kuasa dan Birahi”

Kebangkitan Global Fundamentalis dan Ultra-Nasionalis: Bukan Akhir dari Sejarah

Francis Fukuyama, seorang filsuf ternama yang mengembangkan konsep politik ‘akhir dari sejarah’ (end of history), baru-baru ini mengaku ketakutan dengan masa depan demokrasi setelah melihat kasus keluarnya Inggris dari Uni Eropa, Brexit, dan kemenangan Trump pada Pilpres Amerika Serikat (AS). Dua dekade yang lalu, Fukuyama memberikan bayangan global setelah Perang Dingin berakhir dengan menyatakan bahwa detik-detik penghancuran Tembok Berlin 1989 adalah kemenangan demokrasi liberal pasar bebas atas komunisme. Dengan demikian, ini menjadi bentuk final dari pemerintahan manusia. Ia tidak pernah menduga bahwa demokrasi liberal berjalan mundur dengan kebangkitan kekuatan konservatif dan ultra-nasionalis seperti pada Perang Dunia II. Continue reading “Kebangkitan Global Fundamentalis dan Ultra-Nasionalis: Bukan Akhir dari Sejarah”

Anda Tidak Benci Politik, Anda Benci Negara

Kita menyaksikan sendiri bahwa saat ini, golongan putih (golput)[1] akan terus meningkat seiring ketidakpercayaan publik pada para politikus. Banyak orang melemparkan penyesalan dan menatap masa lalu manakala orang-orang lebih berorientasi pada komunitas[2] dan peduli urusan publik. Merosotnya orientasi komunitas dan kepedulian urusan publik menjadi topik kesedihan para komentator dari seluruh spektrum politik. Kalangan liberal menyalahkan kekuasaan tak terbatas korporasi-korporasi atas kemerosotan ini. Sementara kaum konservatif Amerika menyalahkan negara yang tersentralisasi, menyarankan untuk desentralisasi pada aras federal. Continue reading “Anda Tidak Benci Politik, Anda Benci Negara”

Aksi Petani Kendeng yang Anarkis

Pada November 1999, sebuah aksi massa yang berlangsung selama lima hari nyaris membuat jadwal konferensi World Trade Organization (WTO) di Seattle, Amerika Serikat, gagal total. Aksi ini terkonsolidasi oleh 75.000 demonstran untuk menentang keras ketidakadilan global akibat ulah WTO, IMF dan Bank Dunia. Media massa tercengang karena jumlah yang besar tersebut dimobilisasi tanpa ada kelompok atau pimpinan tunggal satu pun di balik aksi yang rapi ini. Continue reading “Aksi Petani Kendeng yang Anarkis”

Melanjutkan Semangat Berta Cáceres

Ada beberapa poster dan spanduk yang menarik perhatian saya pada Woman March, Sabtu, 4 Maret 2017. Salah satunya adalah poster yang bertuliskan “Keadilan untuk Perempuan Pembela Lingkungan dan Agraria”. Atribut lain yang tidak kalah menarik adalah sebuah spanduk bertuliskan “Selamatkan Perempuan dan Anak-Anak dari Bencana Iklim”, yang tampak sangat mencolok karena warna merah muda dan ukurannya yang besar. Continue reading “Melanjutkan Semangat Berta Cáceres”

Dua Bocah Sialan

Dua bocah sialan (Karya Bima Satria Putra)
Dua bocah sialan (Karya Bima Satria Putra)

Ada dua orang bocah gelandangan. Yang satu bodoh, tapi kuat dan berbadan besar. Yang satu pintar, tapi lemah dan berbadan kecil. Jadi, persahabatan mereka berdua, anggap saja, saling melengkapi.

Mereka tidak tahu darimana mereka berasal. Sejak sadar dengan kehidupan, mereka sudah tinggal di bekas gedung teater tua dan dirawat oleh semua gelandangan kota.

“Kamu lihat patung pendiri kota di taman? Kalian berdua lahir dari situ,” ujar seorang pencuri kepada mereka. Continue reading “Dua Bocah Sialan”

Di Bawah Peron Stasiun

Di Bawah Peron Stasiun (Karya Bima Satria Putra)
Di Bawah Peron Stasiun (Karya Bima Satria Putra)

Seorang karyawan pabrik tekstil masuk ke dalam stasiun. Kartu pengenalnya ia tutupi di balik mantel. Padahal jabatannya tidak rendah, tapi tetap saja ia malu. Sebagai pengawas produksi, tugasnya cuma satu, mengawasi lima ratus pekerja lain supaya bekerja dengan benar. Ada beberapa prosedur yang harus mereka taati. Ia dapat menegur pekerja jika terjadi kesalahan. Sayangnya, ia tidak dapat menegur manajer pengolahan akhir dan direksi karena membuang limbah. Continue reading “Di Bawah Peron Stasiun”